Ketegangan Timur Tengah Picu Sentimen Negatif di Pasar Modal Indonesia
Sumber Foto: SWA.co.id
Ekonomi

Ketegangan Timur Tengah Picu Sentimen Negatif di Pasar Modal Indonesia

Radar Media Digital - Pasar modal Indonesia diprediksi akan didominasi oleh suasana menghindari risiko (risk-off) pada pembukaan perdagangan pekan ini, Senin (2/3/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan terkoordinasi Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang diberi nama sandi "Operasi Epic Fury".

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, memproyeksikan adanya potensi aksi jual di pasar ekuitas yang disertai dengan keluarnya aliran modal asing (outflow) dari Indonesia. Selain itu, nilai tukar Rupiah diperkirakan akan berada di bawah tekanan, sehingga Bank Indonesia kemungkinan perlu melakukan intervensi untuk mencegah depresiasi yang signifikan.

Konflik ini memasuki fase baru setelah kematian Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran pasca-serangan udara tersebut. Ketegangan ini memicu kekhawatiran akan gangguan pada infrastruktur energi dan jalur pelayaran utama di Selat Hormuz.

Dampaknya langsung terlihat pada pasar komoditas global. Harga minyak mentah WTI tercatat melonjak 2,8% menjadi USD 67,0 per barel, sementara emas sebagai aset aman (safe haven) naik 1,8% ke level USD 5.278,9. Jika konflik meluas, harga minyak dikhawatirkan dapat menembus angka tiga digit, yang akan memperburuk kondisi eksternal Indonesia melalui kenaikan biaya energi.

Di sisi domestik, pertumbuhan uang beredar (M2 dan M1) pada Januari 2026 melonjak masing-masing sebesar 10,0% dan 14,9% YoY, menjadi pertumbuhan tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Pemerintah juga mempercepat belanja negara pada kuartal pertama 2026 dengan realisasi mencapai Rp227,3 triliun pada Januari saja.

Mirae Asset memproyeksikan pertumbuhan PDB kuartal I-2026 bisa melampaui 5,5% YoY, didorong oleh stimulus fiskal paket Ramadan-Lebaran. Namun, risiko inflasi tetap perlu diwaspadai dengan proyeksi inflasi Februari 2026 sebesar 0,3% MoM atau 4,3% YoY.

Rekomendasi Sektor

Untuk sektor telekomunikasi, Mirae Asset mempertahankan peringkat Overweight seiring dengan stabilnya harga layanan dan membaiknya tren ARPU menjelang puncak konsumsi Ramadan. PT XL Axiata Tbk (EXCL) menjadi pilihan utama (top pick) dengan target harga Rp4.300 per saham.

Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang saat ini berada di level 8.235,5 diperkirakan mengalami konsolidasi bearish dengan rentang support di 8.060 dan resistance di 8.259. Investor disarankan untuk disiplin dalam manajemen risiko dan fokus pada saham-saham yang memiliki fundamental solid. (*)