Eskalasi Konflik di Selat Hormuz Berpotensi Picu Resesi Global
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Eskalasi Konflik di Selat Hormuz Berpotensi Picu Resesi Global

Radar Media Digital - JAKARTA, KOMPAS.com - Penutupan Selat Hormuz jalur distribusi BBM lintas negara secara berkepanjangan, sebagai dampak eskalasi konflik antara Israel dan Iran dinilai dapat berdampak pada resesi global.

"Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global," ujar Bob McNally, mantan penasihat bidang energi Gedung Putih era Presiden AS ke-41 dan pendiri Rapidan Energy, dikutip dari CNBC.

Resesi global merupakan periode penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dan serentak di banyak negara di seluruh dunia, ditandai dengan kontraksi ekonomi, peningkatan pengangguran, dan penurunan daya beli masyarakat.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengingatkan, potensi resesi global semakin besar di tengah eskalasi konflik Iran–AS dan lonjakan harga energi dunia.

“Resesi global berpotensi terjadi dalam waktu dekat,” kata Bhima kepada Kompas.com, Senin (2/3/2026).

Dia menilai sejumlah indikator ekonomi global sudah menunjukkan sinyal peringatan. Bhima menuturkan, indeks volatilitas global atau VIX index telah melonjak tajam sejak awal tahun.

“Indikator VIX index sudah naik 52 persen sejak awal 2026. Semakin tinggi indeks volatilitas, semakin besar risiko ekonomi mengalami guncangan,” ujarnya.

Menurut dia, perang Iran–AS memicu gangguan serius pada pasokan minyak dan gas dunia. Kenaikan harga energi yang terlalu cepat dan tinggi berisiko menimbulkan tekanan besar pada sisi pasokan.

“Harga minyak yang naik terlalu cepat dan terlalu tinggi membuat shock pada sisi pasokan. Jalur transmisi resesinya dari imported inflation,” kata Bhima.

Dia menjelaskan, imported inflation terjadi ketika pelemahan nilai tukar bertemu dengan kenaikan harga komoditas global, terutama energi dan pangan.

“Pelemahan kurs bertemu dengan naiknya harga minyak dan pangan. Kombinasi mematikan untuk melemahkan daya beli,” lanjut dia.

Di sisi lain, Bhima juga menyoroti potensi pecahnya gelembung pasar (market bubble). Menurutnya, terjadi ketidaksinkronan antara perlambatan ekonomi riil dengan reli saham, khususnya sektor teknologi.

“Di saat yang bersamaan market bubble bisa pecah karena mulai tidak sinkron antara pelambatan ekonomi dengan rally saham teknologi,” tegasnya.

Perang antara Israel dan Iran yang pecah pada Sabtu (28/2/2026) tak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berdampak serius terhadap perdagangan energi global. Ketegangan ini juga menyoroti peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.

Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Jalur sempit dengan kedalaman kurang dari 60 meter ini dikelilingi sejumlah pulau yang dikuasai Iran, seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak.

Sejak 1971, Iran memegang kendali atas selat tersebut, meski beberapa pulau lain masih disengketakan dengan Uni Emirat Arab. Posisi ini membuat Iran memiliki pengaruh besar terhadap lalu lintas energi global.

Menurut US Energy Information Administration (EIA), Selat Hormuz merupakan titik perdagangan minyak terpenting di dunia. Data konsultan energi Kpler mencatat sekitar 14 juta barel minyak per hari setara sepertiga ekspor minyak mentah dunia—melewati selat ini sepanjang 2025.

Sekitar separuhnya dikirim ke China. Selain itu, 20 persen ekspor gas alam cair (LNG) global, terutama dari Qatar, juga melintasi jalur tersebut.

Tak hanya energi, nilai perdagangan non-migas yang melewati kawasan ini juga sangat besar.

Total perdagangan di kawasan Teluk Persia–Selat Hormuz mencapai 1,2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 19.440 triliun, mewakili 20 persen pengiriman kontainer global. Besarnya arus perdagangan ini menjadikan Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan instrumen penting dalam percaturan geopolitik dunia.