Dampak Perang AS-Iran Terhadap Ekonomi Indonesia dan Harga Energi
Sumber Foto: magdalene.co
Internasional

Dampak Perang AS-Iran Terhadap Ekonomi Indonesia dan Harga Energi

Radar Media Digital - Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, Israel kepada Iran, sejak 28 Februari, telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejumlah media internasional yang dikonfirmasi oleh Iran dan pihak AS–Israel mengabarkan kemarian Khamenei 1 Maret kemarin.

Seorang penyiar di televisi Iran menyampaikan kabar meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei sambil menangis. “Pemimpin Tertinggi Iran telah syahid,” ungkapnya di stasiun televisi milik negara, IRIB, dilansir dari CNN Internasional, Minggu (1/3). Efeknya, ratusan ribu orang melakukan protes di jalan selama masa berkabung. Iran juga mengumumkan masa berkabung selama 40 hari.

“Khamenei tewas di kediamannya saat melaksanakan tugas saat serangan terjadi di Sabtu pagi,” ungkap Kantor berita Fars. Khamenei diketahui tewas bersama anak dan cucunya.

Dilansir dari Antara, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menunjuk Ahmad Vahidi sebagai komandan baru. Ia ditunjuk untuk menggantikan Mohammad Pakpour, yang juga tewas dalam serangan AS dan Israel. Selain Khamenei dan Pakpour, diketahui, Kepala Staf miiter Iran Abdulrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, Komandan IRGC Pakpour, dan Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani juga tewas akibat serangan itu.

Perang ini masih berlanjut karena saat ini Iran melakukan serangan balasan kepada pangkalan militer AS dan Israel. Mengutip Antara, Pasukan Iran—melalui Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya—menyatakan serangan itu menargetkan 14 pangkalan militer penting AS di kawasan Timur Tengah, serta sejumlah pusat keamanan dan militer Israel.

Menurut pihak Iran yang dikutip kantor berita Tasnim, “ratusan orang dari pasukan agresor AS dan pasukan rezim Israel tewas” akibat serangan tersebut. Namun, belum ada konfirmasi resmi dari AS atau pihak sekutu mengenai jumlah korban.

Lalu apa dampaknya perang ini pada dunia, terutama buat warga Indonesia?

Selat Hormuz dan Perannya dalam Ekonomi Global

Di tengah perang ini ada Selat Hormuz, jalur perairan sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman, dan Samudera Hindia. Ia adalah salah satu choke point (titik sempit strategis utama dalam perdagangan minyak global.

Data Internationaly Moneter Fund (IMF) per Februari 2026, menyebut 20 persen total pasokan minyak mentah dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menggunakan rute ini untuk mengekspor minyak ke Asia, Eropa, dan Amerika.

Terganggunya Selat Hormuz akibat perang AS dan Iran akan bikin pasokan energi global jadi sangat terbatas. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam dan pasar global keuangan, terutama di bidang energi dan mata uang, jadi sangat volatil.

Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) menyebut, risiko jika Selat Hormuz terganggu bisa membuat harga minyak mentah dunia meroket hingga US$ 100–120 per barel. “Perang artinya harga BBM berisiko naik,” tulis pusat studi yang biasa memantau kondisi ekonomi Indonesia ini di Instagram mereka.

Perang di Timur Tengah juga telah memicu kenaikan harga emas selama enam bulan terakhir. Tercatat, selama enam bulan terakhir kenaikannya mencapai 48,4 persen. Situasi ini menurut Celios bisa berpotensi bikin orang kaya dan investor bergeser ke aset dengan risiko rendah seperti emas.

“Buat WNI yang pegang rupiah sih ini cobaan,” ungkap Celios. “Yang punya uang makin cari aman, ekonomi lesu.”

Disposable income (pendapatan yang bisa dibelanjakan) kelas menengah akan berpotensi makin turun. Situasi ini makin buruk karena perang bikin rantai pasok terganggu. Menurut Celios, untuk konteks Indonesia, situasi diperburuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memicu kenaikan harga pangan semacam ayam, telur, beras, dan sayuran.

Menurut Celios, pemerintah juga kehabisan solusi karena baru menarik utang baru Februari kemarin senilai Rp75,6 triliun. “Penarikan utang valas (valuasi asing) terbesar sejak 2017,” tambahnya.

Warga dengan keterbatasan finansial bisa apa? Memperkuat gerakan akar rumput seperti solidaritas warga jaga warga, dan tidak menghemat jadi saran yang disampaikan Celios.

“Efek ke ekonomi mogak parah lah, ya. Perang cepat berlalu,” tutup Celios di caption.