Membedah Klaim Teknologi AI untuk Deteksi Risiko Penyakit Jantung oleh CEO Google
Sumber Foto: CNN Indonesia
Deteksi Viral

Membedah Klaim Teknologi AI untuk Deteksi Risiko Penyakit Jantung oleh CEO Google

Jakarta, CNN Indonesia -- Baru-baru ini, sebuah video lama yang menampilkan CEO Google, Sundar Pichai, kembali viral di media sosial. Dalam video tersebut, Pichai mengungkapkan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat digunakan untuk mendeteksi risiko penyakit jantung melalui pemindaian mata. Namun, seberapa akurat klaim ini?

Video yang diunggah oleh akun Twitter @sikka_harinder pada 18 Juni lalu, sebenarnya merupakan rekaman dari presentasi Pichai yang berlangsung pada tahun 2018. Dalam presentasi tersebut, Pichai menjelaskan bagaimana teknologi AI yang dikembangkan oleh Google dapat membantu mendiagnosis risiko kardiovaskular melalui analisis retina.

Pichai mengungkapkan bahwa pengembangan awal teknologi ini fokus pada deteksi retinopati diabetes, yang merupakan penyebab utama kebutaan. Dia menyatakan, "Tahun lalu kami mengumumkan karya dalam bidang retinopati diabetes. Kami menggunakan deep learning untuk membantu dokter mendiagnosisnya lebih awal." Uji coba lapangan untuk teknologi ini telah dilakukan di beberapa rumah sakit di India, termasuk rumah sakit Arvind dan Sankara.

Dalam video, Pichai menambahkan bahwa pemindaian mata dapat mengungkap informasi yang berguna untuk memprediksi risiko kardiovaskular dalam lima tahun ke depan, termasuk kemungkinan serangan jantung atau stroke. Jika klaim ini terbukti akurat, maka ini dapat menjadi metode baru dalam deteksi dini risiko kardiovaskular.

Google saat ini masih melanjutkan pengembangan teknologi ini. Dalam sebuah unggahan blog pada Mei lalu, perusahaan tersebut mengumumkan kerjasamanya dengan Lions Outback Vision di Institut Mata Lions untuk meningkatkan kesehatan mata di daerah pedesaan dan terpencil di Australia Barat. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi efektivitas model AI dalam mendeteksi retinopati diabetes pada populasi penduduk asli di wilayah tersebut.

Teknologi ini sudah diterapkan di beberapa negara, termasuk India dan Thailand, untuk membantu dokter dalam melakukan skrining retinopati diabetes. Namun, hingga saat ini, belum ada informasi yang jelas mengenai tingkat akurasi atau kecanggihan dari sistem deteksi tersebut.

Google mengakui bahwa pengembangan deteksi penyakit ini dihadapkan pada sejumlah tantangan, salah satunya adalah pengumpulan data yang diperlukan untuk melatih model AI. Proses ini memerlukan keterlibatan tim dokter mata yang besar untuk menilai dan memberi label pada pemindaian satu per satu sesuai dengan tingkat keparahan yang berbeda.