Radar Media Digital - KBRN, Bengkulu : Marah-marah di media sosial merupakan fenomena yang semakin umum terjadi, dan banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satu alasan utamanya adalah anonimitas yang diberikan oleh media sosial, yang membuat pengguna merasa lebih bebas untuk mengekspresikan kemarahan tanpa takut akan konsekuensi langsung. Orang yang tidak dikenal dapat berkomentar pedas atau agresif tanpa perlu khawatir tentang dampak langsung pada reputasi atau hubungan sosial mereka. Kondisi ini sering kali memicu perilaku yang disebut sebagai "keyboard warrior," di mana seseorang merasa berani mengeluarkan kata-kata kasar karena identitasnya tersembunyi
Selain itu, media sosial mempermudah orang untuk mengekspresikan emosi secara cepat dan impulsif, terutama ketika sedang frustasi atau kesal. Tekanan hidup, seperti stres akibat pekerjaan, masalah keuangan, atau konflik pribadi, sering kali diperparah oleh penggunaan media sosial yang berlebihan. Orang merasa lega sesaat ketika melampiaskan emosinya di platform digital, meskipun dampaknya sering kali memperburuk suasana hati atau menimbulkan konflik dengan orang lain
Faktor lain yang mempengaruhi adalah kurangnya keterampilan dalam mengontrol emosi. Media sosial memberikan ruang yang luas untuk debat dan perbedaan pendapat, yang sering kali berakhir dengan pertengkaran sengit karena ketidakmampuan untuk merespon secara sehat. Dalam situasi seperti ini, kebebasan berpendapat dapat berubah menjadi tindakan agresif yang destruktif
Untuk mengatasi kebiasaan ini, penting untuk belajar mengelola emosi dan lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Alih-alih langsung marah-marah, cobalah untuk menenangkan diri terlebih dahulu dan mempertimbangkan dampak dari setiap komentar atau unggahan yang dibuat. Jika perlu, menjauhkan diri dari media sosial untuk sementara waktu bisa menjadi solusi yang efektif. (dilansir dari berbagai sumber)