Kenaikan Pertamax: Peluang dan Tantangan bagi Masyarakat
Sumber Foto: Smart Newsroom
Perspektif

Kenaikan Pertamax: Peluang dan Tantangan bagi Masyarakat

Kenaikan Harga Pertamax: Langkah Realistis untuk Stabilitas Energi dan Fiskal

Kenaikan harga Pertamax menjadi sorotan publik, dengan banyak pihak menilai kebijakan ini sebagai tindakan realistis pemerintah untuk menjaga kesehatan anggaran negara dan keberlanjutan pasokan energi nasional.

Peneliti Senior LSI Denny JA, M. Khotib, menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax merupakan respons terhadap dinamika ekonomi global yang tengah berlangsung. Kenaikan harga minyak dunia dan tekanan pada nilai tukar rupiah menjadi faktor utama dalam keputusan ini.

Khotib menegaskan bahwa Pertamax, yang tidak mendapatkan subsidi, mengikuti mekanisme pasar yang mempertimbangkan harga minyak mentah global dan kurs rupiah. Ia menjelaskan bahwa jika pemerintah terus menahan harga BBM, hal tersebut dapat membebani APBN dan berdampak pada anggaran untuk sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Dalam pandangan Khotib, kebijakan subsidi yang tepat sasaran lebih efektif dibandingkan subsidi yang merata tanpa memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat. Ia menekankan komitmen pemerintah untuk melindungi kelompok rentan melalui program perlindungan sosial dan subsidi yang lebih terarah. Meski demikian, Indonesia masih dinilai lebih beruntung dibanding negara lain yang harus melakukan penyesuaian harga energi secara drastis.

Di akhir, Khotib menekankan pentingnya transparansi dalam komunikasi dengan publik mengenai kebijakan ini. Masyarakat akan lebih menerima keputusan yang sulit jika mereka memahami konteks di baliknya. Penyesuaian harga Pertamax, menurutnya, merupakan bagian dari strategi untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global dan bukan sekadar kenaikan beban masyarakat.