Radar Media Digital - KBRN, Bengkulu: Maiya Linda Sari, mahasiswi Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UINFaS) Bengkulu, sukses menyabet Juara 1 dalam Lomba Parade Pidato Bahasa Indonesia tingkat Provinsi Bengkulu yang diselenggarakan oleh kantor bahasa Provinsi Bengkulu. Kompetisi tersebut merupakan bagian dari Selebrasi Krida Duta Bahasa, sebuah ajang prestisius bagi para aktivis sekolah dan kampus yang bergerak di bidang literasi.
Penghargaan bergengsi ini diumumkan pada Kamis, 31 Oktober 2024, di Hotel Nala Sea Side, Jalan Parawisata No. 13, Tanah Patah, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu. Ajang ini mempertemukan persaingan ketat antara dua perguruan tinggi, yaitu Universitas Bengkulu (UNIB) dan Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UINFaS) Bengkulu.
Sebelum meraih Juara 1 Lomba Parade Pidato Bahasa Indonesia tingkat Provinsi Bengkulu, Maiya mengikuti pembekalan intensif selama tiga bulan sejak 21 Agustus 2024, yang berlangsung dalam lima sesi secara langsung dan daring.
"Dalam pembekalan itu tentunya untuk yang pidato itu diajari bagaimana teknik menulis pidato yang baik dan benar, cara menarasikan dan mendemonstrasikan pidato, dan untukk tips dan trik untuk meraih juara 1 tentunya mengikuti selama 3 bulan pembekalan dengan serius dan sungguh-sungguh, sering sering berlatih melihat youtube," ungkapnya, (1/11/24)
Ketertarikan Maiya terkait isu di Indonesia tentang banyaknya orang yang cerdas namun minimnya orang yang beradab, hingga "Pentingnya Keseimbangan antara Ilmu dan Adab" merupakan satu topik yang dibawakan juga mengantarkan sosok maiya menjadi pemenang dalam lomba Pidato Parade Bahasa Indonesia. Dalam wawancara RRI, Maiya menegaskan bahwa ilmu tanpa adab tak ada artinya, dan keseimbangan keduanya penting untuk mencapai kesuksesan.
"Hal yang sangat krusial untuk kita angkat, untuk kita bahas, sebagai contoh di Indonesia, di sekolah ketika kita tidak mempunyai adab dengan guru maka bagaimana pendidikan itu dapat dikatakan berhasil. Kemudian juga naik ke link yang lebih besar, semakin banyaknya koruptor di Indonesia semakin banyaknya pejabat yang tidak memikirkan kepentingan rakyat itu yang membuat negara Indonesia itu hancur dan tidak akan mengalami kemajuan seperti negara-negara maju," jelasnya.
Maiya, mahasiswi semester 5 program studi Tadris Bahasa Inggris tersebut berharap pencapaiannya di tingkat provinsi bisa menjadi langkah awal menuju prestasi nasional bahkan internasional, khususnya dalam mempromosikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia juga ingin menginspirasi generasi muda untuk lebih bangga berbahasa Indonesia, terutama dalam konteks formal, dan menekankan bahwa setiap usaha pasti akan membuahkan hasil. (Liza Febriyani/KPI UINFaS Bengkulu)