Inovasi menarik datang dari seorang mahasiswa Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi di Universitas Muhammadiyah Kendari, Arya Apriawan. Arya berhasil menciptakan sebuah sistem deteksi berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang mampu mendeteksi gerakan salat yang melebihi jumlah rakaat yang seharusnya.
Sistem ini menggunakan teknologi computer vision yang memanfaatkan OpenCV dan bahasa pemrograman Python. Dengan teknologi ini, sistem dapat melacak dan mendeteksi gerakan secara real-time. Jika pengguna melakukan gerakan salat yang melebihi jumlah rakaat, sistem akan secara otomatis mendeteksi potensi kesalahan tersebut.
Arya menyatakan dalam sebuah video yang diunggah di akun TikTok-nya, "Sistem deteksi sholat yang melebihi rakaatnya menggunakan OpenCV2 Python." Tujuan dari inovasi ini adalah untuk membantu umat Muslim meningkatkan ketepatan dan kekhusyukan dalam pelaksanaan ibadah salat.
Karya inovatif ini dengan cepat menarik perhatian publik setelah diunggah pada 7 April 2026. Videonya langsung viral dan muncul di halaman For You Page (FYP) TikTok. Keesokan harinya, banyak akun media nasional yang berfokus pada teknologi mulai mengunggah ulang inovasi Arya, sehingga semakin memperluas jangkauan karyanya.
Sadar akan potensi besar dari karyanya, Arya mengambil langkah cerdas dengan mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk melindungi karyanya. Hal ini merupakan langkah penting bagi para inovator muda, mengingat publikasi di media sosial tidak selalu cukup untuk melindungi ide dari klaim pihak lain.
Kisah Arya Apriawan menunjukkan bahwa tugas akhir atau proyek kampus dapat menjadi inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Dengan keberanian untuk berinovasi dan melindungi karya, para mahasiswa di Indonesia diharapkan dapat terus menciptakan solusi yang bermanfaat.