Ketika saya pertama kali masuk kuliah, orang tua saya memberi saya wejangan untuk fokus kuliah dan menghindari lingkaran pertemanan yang negatif. Namun hal kedua yang mencolok dari kehidupan di kampus adalah organisasi mahasiswa, awalnya saya berfikir ini hal yang biasa terlebih saat saya di pondok dulu sudah pernah berkecimpung di organisasi siswa, walaupun memang setiap santri diwajibkan untuk ikut organisasi siswa karena merupakan Tarbiyah Masu'liyah yang didapat di luar kelas, begitu perkataan ustad saya.
Sebelum saya masuk kuliah, organisasi merupakan perkara yang di-highlight orang tua saya mengingat dunia perkuliahan yang bebas. Hari pertama saya ikut ospek, banyak kabar yang beredar tentang kaderisasi ormek (organisasi mahasiswa eksternal) para kating berbondong-bondong menjelaskan manfaat dari mengikuti kegiatan organisasi tersebut, alasan paling sering saya dengar adalah membangun relasi dan belajar manajemen waktu yang mana dua hal tersebut seperti hal eksklusif yang bisa anda dapat ketika bergabung organisasi, padahal saat kita berkuliah tentu saja kita akan mendapatkan kenalan baru dan secara tidak langsung belajar memanjemen waktu, mengingat tugas yang bertumpuk dari dosen.
Butuh satu semester untuk memahami arti relasi yang dikatakan kating kepadaku saat itu. Sebenarnya praktik ordal (orang dalam) sudah mulai terbangun sejak kita berkuliah. Relasi yang dimaksud di sini bukan semata-mata soal titipan atau jalan pintas, melainkan jaringan pertemanan yang terbentuk dari ruang-ruang aktivitas mahasiswa. Kamu akan mengenal kating-kating yang berpengalaman, memiliki jabatan strategis di lembaga otonom dari tingkat jurusan hingga universitas, dan dari sanalah peluang sering kali terbuka lebih lebar dibanding mereka yang sama sekali tidak terhubung dalam lingkaran tersebut. Realitas ini tidak bisa sepenuhnya disangkal, karena dunia kampus---seperti dunia pada umumnya---bergerak bukan hanya oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kepercayaan dan relasi yang dibangun seiring waktu.
Namun, relasi sejatinya bukanlah tiket masuk yang otomatis mengantarkan seseorang pada posisi tertentu. Ia lebih tepat dipahami sebagai pintu yang terbuka, sementara keputusan untuk melangkah masuk tetap bergantung pada kesiapan diri. Relasi dapat mempermudah akses, tetapi tidak seharusnya menggantikan kompetensi dan tanggung jawab. Di titik inilah batas antara relasi yang sehat dan praktik ordal yang merugikan menjadi penting untuk disadari. Ketika relasi digunakan untuk memperbesar peluang bagi mereka yang memang siap dan mampu berkontribusi, ia menjadi bagian dari proses belajar sosial. Sebaliknya, ketika relasi hanya dijadikan alat untuk mengejar jabatan tanpa kesanggupan menjalankan amanah, ia berubah menjadi masalah yang merusak keadilan dan kepercayaan dalam organisasi.
Namun di sisi lain ada kasus lain Dimana sebuah ormek ingin melebarkan sayap pengaruhnya di Lembaga-lembaga kampus secara tidak sehat. Sering kali orang-orang yang tidak memiliki pengalaman memimpin dipaksa untuk menyalonkan dirinya supaya tetap ada perpanjangan tangan di dalam Lembaga tersebut. Sehingga hal ini dapat menimbulkan pengaruh buruk pada saat berjalannya periode kepengurusan karena dipimpin oleh orang yang tidak memiliki kompetensi.
Organisasi tempat belajar manajemen waktu?
Entah hanya saya atau memang begitulah kenyataannya, kebiasaan orang Indonesia yang bertele-tele rasanya sulit benar untuk diubah. Sejauh ini, saya belum banyak menemukan organisasi mahasiswa yang benar-benar menegakkan disiplin waktu secara konsisten---kecuali saat masa ospek. Undangan rapat tertulis selepas Zuhur, tetapi pelaksanaannya baru benar-benar dimulai setelah Asar. Sebagian pengurus bahkan sengaja mencantumkan jadwal lebih awal, dengan harapan memberi toleransi bagi kebiasaan datang terlambat. Sayangnya, strategi ini lama-kelamaan justru menormalkan keterlambatan itu sendiri. Akibatnya, pola yang sama terus berulang dan tetap bisa kita temui di hampir setiap organisasi kampus.
Sejauh ini, kesimpulan yang saya ambil soal manajemen waktu dari pengalaman berorganisasi adalah soal kemampuan kita beradaptasi. Bukan semata-mata karena ikut organisasi lalu tiba-tiba kita jago mengatur waktu, melainkan karena kita dipaksa menyeimbangkan porsi antara kewajiban kuliah dan kebutuhan organisasi. Dari situ, manajemen waktu muncul sebagai hasil dari proses penyesuaian diri terhadap kesibukan yang semakin padat. Pada akhirnya, belajar mengatur waktu bukan sepenuhnya hadiah dari organisasi, melainkan konsekuensi dari kesadaran pribadi dalam menghadapi rutinitas yang menumpuk.