Jakarta, IDM – Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menekankan pentingnya meningkatkan kekuatan udara dalam doktrin perang zaman sekarang.
Hal itu disampaikan SBY saat memberikan kuliah umum ke peserta P3N XXVII dan P4N LXIX Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Gedung Pancagatra Lemhannas, Jakarta Pusat, Senin (23/2).
Zaman dulu, SBY mengakui bahwa Indonesia mengutamakan TNI Angkatan Darat. Namun, dalam doktrin modern, hal itu bergeser.
“Dulu kan seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power (kekuatan udara) ini sangat penting,” kata SBY.
Sebelumnya, secara konsep pertahanan keamanan rakyat semesta, apabila Indonesia diserang, TNI akan menyerang balik teritori negara penyerang.
“Kita serang di negaranya, meskipun tidak mudah. Kita adang di sepanjang perjalanan, pertahanan pantai, pertahanan pulau-pulau besar, perang gerilya dan serangan balasan. Itu kan doktrinnya dulu,” ujar mantan Kepala Staf Teritorial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) itu.
Kini, dalam doktrin modern, SBY mengingatkan pentingnya membangun kekuatan udara, terutama di objek-objek vital.
“Sekarang begitu ada air strike (serangan udara) menghancurkan Jakarta, Pindad di Bandung, PAL di Surabaya, dan kota-kota yang lain, apa yang kita lakukan?” kata SBY.
“Jadi ini modern warfare, modern technology, modern doctrin, semuanya harus siap,” tutur dia.
Dalam kesempatan itu, SBY juga berbicara soal potensi perang dunia ketiga di hadapan ratusan peserta Lemhannas. Konflik yang terjadi di sejumlah kawasan merupakan sinyal kuat menuju perang dunia ketiga. SBY menyinggung soal Laut Cina Selatan, Semenanjung Korea, konflik Cina-Taiwan, Rusia-Ukraina, Greenland hingga Timur Tengah.
Mengantisipasi hal itu, SBY mengatakan bahwa Indonesia harus menetapkan posisi, strategi, dan aksi.
“Kita masih perlu, resource kita bangun, skill kita harus dibangun, policy -nya harus dibikin. Jadi bagi saya, apa pun harus siap, karena kita tidak bisa pilih-pilih,” kata SBY. (nma)