BI proyeksikan ekonomi Indonesia 2026 tumbuh 4,9–5,7% meski ekonomi global melambat akibat geopolitik, tarif AS, dan ketidakpastian pasar.
BERTUAHPOS — Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7%. Angka ini menggambarkan optimisme ekonomi domestik yang dipercaya akan tetap tumbuh solid meski dibayangi perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, proyeksi tersebut didukung oleh kuatnya permintaan domestik, investasi, serta sinergi kebijakan antara pemerintah dan otoritas moneter. “Stabilitas makroekonomi masih menjadi modal utama untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional,” katanya.
Namun, BI mengingatkan bahwa prospek ekonomi Indonesia tidak lepas dari tekanan eksternal. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat dari 3,3% pada 2025 menjadi 3,2% pada 2026 akibat tensi geopolitik yang berkepanjangan dan kebijakan perdagangan global.
Salah satu faktor utama perlambatan global adalah kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang memicu ketegangan perdagangan. Kebijakan ini berpotensi menekan arus perdagangan dunia dan memperlambat pertumbuhan ekonomi sejumlah negara.
Ferry menyebut, BI juga mencatat adanya perbedaan kinerja ekonomi antar kawasan. Amerika Serikat diperkirakan masih tumbuh kuat berkat stimulus fiskal besar dan investasi tinggi, termasuk di sektor kecerdasan buatan atau AI.
Sebaliknya, Eropa dan Jepang diproyeksikan melambat karena permintaan domestik yang belum pulih dan kinerja ekspor yang melemah. Kondisi ini turut menekan aktivitas ekonomi global secara keseluruhan.
China, sebagai mitra dagang utama Indonesia, juga diperkirakan mengalami perlambatan akibat konsumsi rumah tangga yang belum pulih sepenuhnya. Sementara India menghadapi tekanan dari menurunnya permintaan domestik dan sektor eksternal.
Di sisi pasar keuangan, ketidakpastian global membuat aliran modal ke negara berkembang menjadi lebih selektif. Investor cenderung memilih aset aman seperti emas, sementara imbal hasil obligasi AS tetap tinggi karena risiko fiskal.
Meski demikian, BI menilai ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang cukup kuat. Konsumsi rumah tangga, proyek investasi, serta stimulus kebijakan pemerintah diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan pada 2026.
“BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah gejolak global,” ujarnya.***
Tags: bank Indonesia ekonomi nasional
Share Tweet Send
Follow Berita BertuahPos di Google News
Berita Terkait
Ekonomi
Walikota Pekanbaru Ancam Putus Kontrak Pihak Ketiga Kerena Revitalisasi Pasar Molor dari Terget
...
Read moreDetails
Pangkas Biaya Logistik, BP BUMN Satukan 15 Perusahaan Jadi Raksasa Baru Bulan Depan
Mentan Amran Pastikan Stok Beras Nasional Pecah Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah RI
Konflik Iran, Ekonomi Kawasan Teluk Rugi 25 Miliar Dolar dalam Dua Pekan
Pangkas Biaya Dapur, Warga Pangkalan Kerinci Mulai Beralih ke Jargas
Selain Pemerintah, Sektor Swasta hingga BUMD Diimbau Kerja WFH, Ini Kata Kadisnakertrans Riau