Jakarta, InfoPublik – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,11 persen secara year-on-year di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi global yang stagnan di kisaran 3 persen pada 2025.
Menurut Menko Airlangga, angka pertumbuhan global tersebut merujuk pada proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan OECD untuk tahun 2025. Bahkan pada 2026, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan sedikit menurun di kisaran 2,9 persen hingga 3,1 persen. Dari sisi perdagangan global, pertumbuhan juga diperkirakan stagnan dan bahkan turun ke level 2,4 persen.
“Di tengah berbagai tantangan global tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara year-on-year mencapai 5,11 persen,” ujar Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa capaian tersebut didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh kuat sebesar 4,98 persen. Kondisi ini mencerminkan stimulus ekonomi yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta peningkatan mobilitas masyarakat akibat momentum hari besar Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada kuartal IV-2025. "Untuk pertama kalinya, pada kuartal IV dan kuartal I terjadi momentum hari besar keagamaan secara berturut-turut," ujar Airlangga.
Pada kuartal I-2026, lanjutnya, terdapat momentum Idul Fitri yang secara historis selalu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Pemerintah pun berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan pada kuartal pertama tahun ini.
Selain konsumsi rumah tangga, konsumsi organisasi lembaga kemasyarakatan juga tumbuh tinggi sebesar 5,13 persen. Hal ini didorong oleh peningkatan kegiatan sosial serta kebijakan penanganan bencana yang responsif.
Dari sisi investasi, pertumbuhan tercatat signifikan sebesar 5,09 persen. Sementara itu, belanja modal pemerintah melonjak 44,2 persen. Airlangga berharap pada kuartal pertama, belanja tersebut dapat terus digelontorkan oleh Kementerian Keuangan untuk memperkuat momentum pertumbuhan.
Belanja pemerintah pada program prioritas dan stimulus ekonomi turut berperan menjaga permintaan domestik serta menjadi peredam (shock absorber) terhadap risiko perlambatan ekonomi. Secara khusus pada kuartal IV, belanja pemerintah tumbuh 4,55 persen.
Kinerja sektor eksternal juga menunjukkan tren positif. Ekspor tumbuh 7,03 persen, didukung oleh peningkatan nilai dan volume ekspor. Sektor pariwisata turut berkontribusi dengan kenaikan kunjungan wisatawan sebesar 10 persen sepanjang tahun 2025.
Dari sisi sektoral, pertanian tumbuh 5,03 persen, ditopang oleh produksi yang mendukung ketahanan pangan dan stabilitas harga. Industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,3 persen berkat kuatnya permintaan domestik, kinerja ekspor yang baik, serta penguatan hilirisasi.
Sektor transportasi, pergudangan, serta akomodasi dan makan-minum tumbuh di atas 7 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan mobilitas dan aktivitas wisata. Sepanjang 2025, wisatawan Nusantara tumbuh 17,55 persen dibandingkan 2024.
Pertumbuhan ekonomi juga diiringi oleh perbaikan indikator sosial. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, sementara rasio gini membaik di level 0,36. Tingkat pengangguran terbuka juga menurun menjadi 4,74 persen, dengan tambahan serapan tenaga kerja sebanyak 2,71 juta orang sebagai hasil realisasi investasi. “Ini menunjukkan pemerataan kesejahteraan yang terus meningkat,” kata Menko Airlangga.
Ia menegaskan bahwa momentum ini sejalan dengan tema Rencana Kerja Pemerintah(RKP) 2026, yakni kedaulatan pangan, energi, dan transformasi ekonomi menuju Indonesia maju.
Untuk 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dengan potensi mencapai 5,6 persen. Sektor prioritas yang akan menjadi penggerak utama antara lain pertanian, industri manufaktur, digital, dan energi.
Implementasi program prioritas Presiden, seperti program makan bergizi gratis, koperasi desa Merah Putih, serta program pembangunan 3 juta rumah, diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas, mendorong akselerasi produktivitas, serta menjadi penggerak utama pembiayaan non-APBN, termasuk melalui Danantara Indonesia.