Negara-negara Teluk Hadapi Krisis Pertahanan Hadapi Serangan Drone Iran
Nasional

Negara-negara Teluk Hadapi Krisis Pertahanan Hadapi Serangan Drone Iran

Radar Media Digital - Ringkasan Berita:

Laporan jurnalis Noga Tarnopolsky untuk France 24 dari Yerusalem menyebutkan bahwa pertahanan udara kawasan Teluk menghadapi tekanan luar biasa setelah berhari-hari dihujani serangan pesawat tak berawak dan rudal.

Para analis menilai, Iran secara sengaja meningkatkan serangan drone jarak jauh untuk mengeksploitasi kelemahan sistem pertahanan negara-negara Teluk terhadap ancaman berbiaya rendah. Strategi ini diyakini sebagai upaya menekan Amerika Serikat agar segera mengakhiri perang.

SERAMBINEWS.COM – Negara-negara Teluk dilaporkan mulai kehabisan rudal pencegat di tengah gelombang serangan drone Iran yang terus meningkat.

Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa Qatar dan Uni Emirat Arab dapat mendesak Washington untuk segera menghentikan operasi militernya terhadap Teheran.

Laporan jurnalis Noga Tarnopolsky untuk France 24 dari Yerusalem menyebutkan bahwa pertahanan udara kawasan Teluk menghadapi tekanan luar biasa setelah berhari-hari dihujani serangan pesawat tak berawak dan rudal.

Para analis menilai, Iran secara sengaja meningkatkan serangan drone jarak jauh untuk mengeksploitasi kelemahan sistem pertahanan negara-negara Teluk terhadap ancaman berbiaya rendah.

Strategi ini diyakini sebagai upaya menekan Amerika Serikat agar segera mengakhiri perang.

Sejak operasi militer dimulai Sabtu lalu, Iran dilaporkan lebih banyak menggunakan rudal balistik untuk menyerang Israel, sementara negara-negara Teluk menjadi sasaran utama drone.

Lembaga think tank Institute for the Study of War bersama Proyek Ancaman Kritis dari American Enterprise Institute menyebut pola serangan tersebut sebagai strategi yang terukur dan sistematis.

Militer Israel pada Minggu malam mengungkapkan bahwa lebih dari 50 drone diluncurkan dari Iran ke wilayahnya.

Namun, negara-negara Teluk disebut menerima serangan jauh lebih masif lebih dari 1.000 drone, sebagian besar tipe Shahed-136.

Uni Emirat Arab mengklaim telah menjadi target lebih dari 800 drone dan hampir 200 rudal sejak konflik pecah.

Beberapa lokasi strategis dilaporkan ikut terdampak, termasuk sebuah hotel mewah dan pangkalan militer Prancis.

Di Arab Saudi, dua drone menghantam Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Selasa, sementara kilang raksasa Ras Tanura di pesisir Teluk terpaksa menutup sebagian operasinya setelah terkena serangan.

Tak hanya itu, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, hingga Yordania juga masuk dalam daftar negara yang menjadi sasaran.

Situasi ini memicu keresahan mendalam di kawasan. Jurnalis Hoda Abdel-Hamid yang melaporkan dari Doha mengatakan, mungkin muncul “perasaan pengkhianatan yang pahit” di antara negara-negara Teluk terhadap respons Iran atas serangan yang terjadi.

Di tengah hujan drone dan menipisnya rudal pencegat, negara-negara Teluk kini berada dalam posisi sulit terjebak di antara solidaritas dengan Washington dan ancaman nyata yang terus berdatangan dari langit.(*)

You can share this post!