Di tengah dinamika dunia yang semakin cepat, terutama dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan dan arus informasi digital yang mengisi setiap detik kehidupan kita, bulan suci Ramadan tidak lagi sekadar menjadi rutinitas tahunan. Saat kita memasuki bulan Ramadan 1447 Hijriah, kita diingatkan bahwa bulan ini merupakan "jeda besar" (the great pause) yang diberikan oleh Allah SWT untuk membantu manusia menemukan kembali jati dirinya sebagai hamba.
Di tahun 2026, tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia bukan hanya soal lapar dan haus, melainkan juga "pengepungan" informasi. Dalam era digital yang serba instan, pikiran kita sering kali terfragmentasi. Oleh karena itu, Ramadan seharusnya menjadi momen untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia agar kita tidak kehilangan jati diri kita sebagai hamba Tuhan.
Persiapan ideal untuk menyambut Ramadan tidak dimulai pada tanggal 1 Ramadan, melainkan sejak bulan Sya’ban. Para ulama menyamakan bulan Rajab dengan masa menanam benih, bulan Sya’ban dengan penyiraman tanaman, dan bulan Ramadan sebagai saat memanen hasil. Sebagai bagian dari umat, kita perlu merenungkan bagaimana cara kita "menyiram" hati kita.
Kesiapan mental (istidad nafsiyyah) jauh lebih penting dibandingkan dengan persiapan logistik. Oleh karena itu, di sisa hari bulan Sya’ban ini, mari kita perbanyak puasa sunnah dan tilawah agar saat memasuki Ramadan, kita sudah berada dalam kondisi yang siap untuk beribadah.
Tahun 2026 mempersembahkan tantangan baru yang unik; distraksi digital kini semakin canggih. Godaan puasa tidak hanya datang dari aroma makanan, tetapi juga dari "makanan untuk mata dan pikiran" yang hadir melalui layar gawai. Oleh karena itu, Ramadan tahun ini harus dimanfaatkan untuk melakukan Digital Detox, dengan cara membatasi waktu layar yang tidak produktif.
MUI Sumedang menghimbau agar umat Islam lebih bijak dalam menyaring informasi, agar pahala puasa kita tidak terhapus hanya karena jempol yang terlalu ringan dalam membagikan berita yang tidak jelas kebenarannya atau terjebak dalam ghibah digital di kolom komentar.
Puasa secara tradisional diartikan sebagai menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Namun, saat ini, "konsumsi" manusia juga mencakup informasi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan Digital Detox, yaitu membatasi penggunaan gawai agar fokus kembali kepada Allah (Hablum Minallah).
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari). Ini mengisyaratkan bahwa puasa bukan hanya soal sahnya, tetapi juga tentang penerimaan ibadah di sisi Allah.
MUI menegaskan pentingnya tabayyun (cek dan ricek) sebagaimana diamanatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6. Meskipun di bulan Ramadan setan dibelenggu, nafsu manusia untuk menyebarkan berita menarik (meskipun hoaks) tetap ada. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam membagikan informasi, agar tidak menghapus keberkahan puasa kita.
Dalam pandangan Islam, menyebarkan kebohongan, bahkan tanpa mengetahui kebenarannya, tetap merupakan dosa. MUI secara tegas mengharamkan aktivitas yang terkait dengan ghibah, fitnah, dan penyebaran hoaks. Kita diingatkan untuk tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi yang merugikan orang lain.
Ramadan 2026 merupakan kesempatan berharga untuk melakukan reboot total atas sistem kehidupan kita. Mari kita jadikan masjid tidak hanya ramai secara fisik, tetapi juga makmur secara substansi dengan kajian yang mendalam dan amal sosial yang bermanfaat. Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk menjalani bulan Ramadan dalam keadaan sehat, penuh keimanan, dan kekuatan untuk menjalankan segala ketaatan. Amin.
"Sya’ban adalah jembatan, Ramadan adalah tujuan. Jangan sampai kita tiba di tujuan dengan jiwa yang masih lelah oleh urusan dunia. Mari mulai 'berkemas' dari sekarang."