Membangun Kembali Komunikasi Keluarga di Era Digital di Desa Binjai
Sosial

Membangun Kembali Komunikasi Keluarga di Era Digital di Desa Binjai

Selama menjalankan KKN di Desa Binjai, ada satu fenomena yang menarik perhatian saya. Teknologi internet sudah masuk ke pelosok desa, namun di sisi lain, kedekatan antar anggota keluarga tampak perlahan merenggang. Sering kali saya melihat orang tua dan anak duduk bersama di teras rumah, namun masing-masing asyik dengan ponselnya. Mereka ada di lokasi yang sama, tetapi secara emosional terasa ada jarak yang memisahkan.

Kondisi inilah yang mendasari saya untuk melaksanakan program psikoedukasi bertajuk DERMAGA (Dengar, Memahami, dan Berbagi Rasa). Fokus utamanya sederhana namun krusial: memperbaiki pola komunikasi keluarga di tengah gempuran era digital.

Rumah sebagai Tempat "Bersandar"

Saya menggunakan nama DERMAGA sebagai sebuah filosofi. Saya ingin menekankan bahwa rumah seharusnya berfungsi layaknya dermaga sebuah tempat yang aman dan tenang bagi anggota keluarga untuk "bersandar" setelah lelah menghadapi dunia luar. Jika suasana di dalam rumah tidak nyaman, anak cenderung akan mencari "dermaga" lain yang mungkin saja membawa pengaruh negatif bagi mereka.

Dalam pelaksanaannya, Saya tidak menggunakan metode ceramah satu arah yang membosankan. Saya mengajak warga untuk berdiskusi santai mengenai kendala komunikasi yang mereka alami sehari-hari.

Tiga Pilar Komunikasi Keluarga

Program ini Saya ringkas dalam tiga langkah praktis yang bisa langsung diterapkan oleh warga:

Dengar: Saya mengajak ibu-ibu untuk memberikan perhatian penuh saat anak bicara, sesederhana dengan meletakkan ponsel sejenak.

Memahami: Mengedukasi bahwa perbedaan zaman antara orang tua dan anak adalah hal yang wajar. Tujuannya agar orang tua tidak sekadar melarang penggunaan gadget, tetapi ikut memahami dunia digital anak.

Berbagi Rasa: Ssaya memperkenalkan teknik I-Message. Teknik ini mengajarkan cara mengungkapkan kekhawatiran tanpa harus terkesan menuduh. Contohnya, mengganti kalimat "Kamu pulang malam terus!" menjadi "Ibu merasa khawatir kalau kamu pulang malam karena kondisi jalanan sepi."

Melalui proker DERMAGA, Saya melihat bahwa sebenarnya warga memiliki keinginan besar untuk lebih dekat dengan anggota keluarga mereka. Mereka hanya membutuhkan sedikit panduan untuk memulai obrolan yang berkualitas.

Program ini menyadarkan saya bahwa sinyal internet secepat apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan kualitas komunikasi tatap muka di dalam rumah. Semoga langkah kecil yang saya mulai di Desa [Nama Desa] ini dapat membantu warga untuk menciptakan suasana rumah yang lebih hangat dan harmonis.

You can share this post!