Radar Media Digital - Ketergantungan Indonesia pada layanan cloud asing masih menjadi isu utama di tengah upaya transformasi digital yang cepat. Sementara itu, pemanfaatan teknologi dalam negeri dan potensi talenta lokal belum dimaksimalkan dengan baik.
Pakar telematika dan pendiri Onno Center, Prof Onno Widodo Purbo, menilai bahwa masalah utama terletak pada arah kebijakan anggaran teknologi. Ia mempertanyakan alokasi anggaran teknologi yang besar, apakah akan diberikan kepada perusahaan asing atau kepada anak muda Indonesia yang mampu mengembangkan teknologi sendiri.
Onno menegaskan bahwa Indonesia memiliki banyak talenta digital yang kompeten, namun mereka memerlukan dukungan yang lebih nyata untuk dapat berkembang. Ia menekankan pentingnya memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi.
Wakil Dekan II Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi Universitas Jenderal Achmad Yani, Chanief Budi Setiawan, menekankan bahwa peran kampus tidak hanya terbatas pada mencetak lulusan. Kampus juga harus menjadi penggerak inovasi dan transformasi digital dengan sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas open source.
Chanief menyatakan bahwa forum CROSS 2026 merupakan platform penting untuk merumuskan standar open source yang sesuai dengan kebutuhan nasional. Forum ini juga membahas pemilihan teknologi yang tepat serta praktik terbaik di sektor publik dan industri, dengan tujuan mendorong kedaulatan digital melalui pemanfaatan teknologi open source dan pengembangan cloud lokal.
Forum tersebut juga menekankan perlunya perlindungan data pribadi, dengan migrasi dari sistem cloud tertutup ke sistem terbuka yang sejalan dengan UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Ryo Ardian dari Cloud in Asia menegaskan bahwa penguatan cloud nasional tidak dapat dilakukan secara terpisah. Ia menyatakan bahwa kolaborasi antara kampus, industri, dan komunitas merupakan kunci dalam membangun ekosistem cloud yang berdaulat.