PARIS, KOMPAS.com - Ketegangan antara Jerman dan Perancis meningkat setelah Berlin secara terbuka menyoroti komitmen anggaran pertahanan Paris.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menilai Perancis belum menunjukkan langkah memadai untuk mewujudkan ambisi kedaulatan strategis Eropa.
Wadephul menyebut Presiden Perancis, Emmanuel Macron, “Berulang kali dan dengan tepat merujuk pada upaya mengejar kedaulatan Eropa.”
Namun, ia menegaskan bahwa komitmen tersebut harus tercermin dalam kebijakan domestik. “Siapa pun yang membicarakannya perlu bertindak sesuai di negaranya sendiri,” ujarnya, dikutip dari kantor berita AFP.
Tekanan Amerika Serikat agar negara-negara Eropa di NATO meningkatkan pengeluaran pertahanan turut membayangi dinamika ini.
Pada Juni lalu, negara-negara anggota sepakat menaikkan belanja pertahanan dan keamanan hingga lima persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035
Meski demikian, Wadephul menganggap progres yang ada masih jauh dari cukup.
“Sayangnya, upaya di Republik Perancis juga sejauh ini belum memadai untuk mencapai hal ini,” kata Wadephul pada Senin (16/2/2026).
Ia menekankan bahwa Paris dan Macron perlu siap mengambil keputusan sulit, termasuk kemungkinan pemotongan kesejahteraan, guna menciptakan “ruang bernapas yang dibutuhkan.”
“Itu seruan yang ditujukan kepada semua negara Eropa,” katanya. “Kita harus mengadakan diskusi yang sangat terbuka dan sangat jujur tentang hal ini di dalam keluarga Eropa kita.”
Perbedaan sikap soal pendanaan bersama
Lihat Foto
Selain soal anggaran pertahanan, ketegangan juga muncul terkait wacana penerbitan eurobond untuk mendanai investasi bersama, termasuk pertahanan.
Macron kembali menyuarakan dukungan atas gagasan tersebut, sedangkan Jerman menolaknya karena khawatir utang bersama Uni Eropa akan berubah menjadi beban subsidi tanpa batas bagi negara-negara dengan kondisi fiskal lemah.
Wadephul menegaskan kembali posisi Berlin. Menurut dia, negara-negara NATO telah menyepakati target lima persen melalui kontribusi masing-masing.
“Kita juga harus mengatakan kepada semua mitra Eropa kita—dalam semangat persahabatan tetapi dengan kejelasan—bahwa apa yang dijanjikan, lima persen itu, adalah komitmen terhadap kontribusi nasional,” ujarnya.