Jakarta - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pengamatan terhadap perilaku sehari-hari Generasi Z yang hampir tidak terpisahkan dari layar gawai. Hasil pengamatan ini memunculkan fenomena menarik, di mana mereka aktif bersosialisasi di dunia maya, tetapi kering interaksi di dunia nyata. Penelitian ini berjudul "Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual".
Ketua tim riset, Fifin, menjelaskan bahwa teori hiperrealitas menunjukkan bahwa representasi digital sering kali dianggap lebih "nyata" dibandingkan realitas itu sendiri. Emosi yang dibentuk oleh media berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental dan hubungan sosial individu.
Fenomena "lonely in the crowd" mencerminkan ironi manusia modern yang merasa kesepian di tengah keramaian. Kesepian ini menjadi penyakit emosional yang menyerang generasi digital, terutama Generasi Z. Menurut Iklil Nafisah, kondisi ini merupakan kegelisahan yang muncul di tengah kesibukan dunia maya.
Sebuah laporan mencatat bahwa 81 persen masyarakat Indonesia aktif menggunakan media sosial, dengan mayoritas penggunanya berasal dari Generasi Z, yaitu individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Data ini menunjukkan bahwa generasi ini tumbuh dalam lingkungan digital yang kompleks, di mana internet dan media sosial bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga ruang hidup yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bertindak mereka.
Namun, pencarian jati diri mereka saat ini sering kali dipengaruhi oleh algoritma, tren global, dan kebutuhan akan validasi di platform digital. Banyak dari mereka merasa harus tampil "sempurna" di dunia maya agar diterima, meskipun itu bertentangan dengan kenyataan pribadi mereka. Di sinilah hiperrealitas berfungsi, mengaburkan batas antara kenyataan dan ilusi.
Fenomena ini bukan semata-mata masalah kemajuan teknologi, tetapi juga berakar pada sistem kapitalisme yang mendasari perkembangan teknologi saat ini. Dalam sistem ini, inovasi digital cenderung tidak diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai sosial, melainkan untuk meningkatkan keuntungan semata.
Media sosial berubah menjadi arena komersialisasi, di mana konten viral menjadi komoditas dan gaya hidup hedonis dipromosikan secara masif. Hal ini menyebabkan banyak generasi muda terjebak dalam sindrom FOMO (Fear of Missing Out), selalu merasa khawatir tertinggal dari tren, haus akan validasi, tetapi kehilangan makna kebersamaan.
Absennya peran negara dalam memfilter arus informasi juga membuat masyarakat harus berjuang sendiri untuk memilah konten di tengah derasnya informasi. Dampak sosialnya sangat nyata; hubungan antarindividu semakin renggang, bahkan di lingkup keluarga. Pemandangan makan bersama yang dulunya disertai obrolan hangat kini sering tergantikan oleh keheningan yang hanya diisi oleh cahaya layar ponsel.
Apabila kondisi ini dibiarkan, sikap asosial dan rasa kesepian yang melanda Generasi Z dapat melahirkan generasi yang kehilangan arah, lemah secara spiritual dan sosial, serta kehilangan potensi untuk memberikan kontribusi bagi peradaban.
Krisis identitas yang dialami bukan hanya masalah individu, tetapi juga menjadi masalah bagi masyarakat secara keseluruhan. Generasi yang terjebak dalam kesepian digital cenderung sulit untuk memiliki empati dan kepedulian terhadap isu-isu sosial di sekitarnya.
Oleh karena itu, penting untuk meninjau ulang paradigma mengenai teknologi, agar tidak dipandang sebagai tujuan, tetapi sebagai alat. Media sosial seharusnya berfungsi untuk memperkuat koneksi antarmanusia, bukan mengasingkan mereka.
Diperlukan sistem yang mampu mengarahkan kemajuan teknologi agar berpihak pada kebaikan bersama, bukan keuntungan semata. Sistem tersebut seharusnya tidak lagi berlandaskan kapitalisme, melainkan pada nilai-nilai yang lebih universal dan moral.
Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, diharapkan teknologi dan media sosial dapat menjadi sarana untuk kemajuan, bukan sumber kesepian. Generasi muda yang tumbuh dengan jati diri yang kuat, berdaya cipta, dan berkontribusi bagi umat akan menciptakan wajah peradaban digital yang lebih baik.