Perubahan tutupan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi hutan telah memperburuk kondisi banjir di beberapa wilayah Sumatra. Hal ini menyebabkan peningkatan sedimentasi yang berakibat pada penurunan kapasitas sungai. Dalam beberapa pekan terakhir, banjir melanda sejumlah daerah di Sumatra, khususnya Aceh Utara dan Langkat.
Di Aceh Utara, banjir telah memaksa 3.507 warga untuk mengungsi dan merendam ratusan hektare sawah serta tambak. Sementara itu, di Langkat, banjir merusak permukiman dan infrastruktur, termasuk robohnya Jembatan Titi Cempedak. Kejadian serupa juga terjadi di Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan, di mana banjir mendadak menyebabkan 15 korban jiwa serta kerusakan yang luas, mengganggu aktivitas masyarakat setempat.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenhut) menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Upaya ini bertujuan untuk meminimalkan risiko banjir dan longsor melalui berbagai langkah mitigasi, rehabilitasi, dan pengawasan tata guna lahan.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Kemenhut dapat membantu masyarakat yang terdampak banjir dan mencegah dampak serupa di masa mendatang.