Kamil Badrun menulis sebuah kolom yang menguraikan babak baru Harian Radar Sulteng setelah 24 tahun bersama Jawa Pos Grup dan kini berpisah. Dalam tulisannya, ia menjelaskan bahwa Harian Radar Sulteng memulai fase baru dengan manajemen baru yang dipimpinnya.
Dalam kolom tersebut, Kamil juga menyampaikan klaim bahwa pihaknya memiliki hak eksklusif atas merek Harian Radar Sulteng. Klaim itu didasarkan pada sertifikat merek nomor IDM000854616 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atas nama Menteri Hukum dan HAM.
Kamil menyoroti tantangan media konvensional di era disrupsi digital. Namun, menurutnya, Harian Radar Sulteng harus tetap eksis. Ia menekankan bahwa keberlanjutan media tersebut bukan semata perhitungan bisnis, melainkan panggilan profesi.
Ia juga menggambarkan Radar Sulteng sebagai karya anak daerah yang, menurutnya, akan terus berkontribusi bagi kemajuan negeri. Penjelasan mengenai manajemen baru dan alasan mempertahankan bentuk cetak disampaikan dengan alur yang runtut dan bahasa yang mudah dipahami.
Uraian Kamil turut menegaskan perbedaan antara penulisan kolom dan berita langsung (straight news). Disebutkan bahwa menulis kolom membutuhkan keterampilan dan pengetahuan tersendiri, serta tidak semua wartawan memiliki kemampuan menulis kolom atau editorial, baik di media cetak maupun daring.
Dalam buku Jurnalisme Kontemporer karya Septiawan Santana (2005), kolom dijelaskan sebagai tulisan dalam penerbitan pers yang menyoroti masalah tertentu dengan gaya bahasa bebas, bersifat subjektif, serta biasanya satir. Sebagai editorial personal atau esai, kolom mengekspresikan keyakinan penulis dan mengulas hal-hal aktual, dengan ulasan yang bersifat faktual.
Dalam konteks itu, apa yang ditulis Kamil tentang manajemen baru Harian Radar Sulteng dipandang berangkat dari keyakinan dan kondisi faktual mengenai keberlanjutan media tersebut ke depan. Tulisan itu juga ditempatkan sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial di ruang publik.
Salah satu poin yang ditekankan dalam narasinya adalah bahwa kehadiran Harian Radar Sulteng di ruang publik tidak semata didorong kalkulasi bisnis, melainkan panggilan profesi untuk tetap menjalankan peran media.