Monitorday.com– Dalam sebuah ceramah penting yang disampaikan di Malaysia beberapa waktu lalu, Ustadz Nouman Ali Khan menyoroti fenomena “sekularisasi Islam” di mana banyak Muslim memisahkan antara kehidupan spiritual dan material. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak pernah memisahkan kedua aspek tersebut, melainkan mengajarkan bahwa cara seseorang mencari, membelanjakan, dan membangun kekayaan adalah hal yang sangat diperhatikan oleh Allah.
Menurut sumber dari saluran resmi Bayyinah, Ustadz Nouman menekankan bahwa istilah ekonomi dalam Al-Qur’an sering kali direduksi maknanya, padahal kata seperti “Rizq” (rezeki) mencakup spektrum yang luas, mulai dari sumber daya alam seperti hujan dan hasil bumi hingga kesuksesan dalam rantai pasok global. Ia menjelaskan bahwa Allah menyediakan sumber daya alam bukan hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi sebagai dasar bagi kemakmuran ekonomi suatu bangsa yang dapat mencegah krisis pangan dan ketergantungan ekspor.
Lebih lanjut, ia menguraikan konsep “Fadl” (karunia) sebagai peluang bisnis dan keuntungan yang harus dikejar, bahkan di saat-saat paling spiritual sekalipun seperti saat ibadah Haji. Al-Qur’an memberikan lampu hijau bagi umat Muslim untuk melakukan jejaring bisnis dan perdagangan selama musim haji, menunjukkan bahwa mencari keuntungan ekonomi yang halal adalah bagian dari ketakwaan jika dilakukan dengan niat yang benar.
Ustadz Nouman juga mengkritik pandangan sebagian kelompok yang menganggap pengejaran pendidikan tinggi atau karier di bidang ekonomi dan teknik sebagai “hijrah untuk dunia”. Ia menggunakan contoh Nabi Nuh AS dan Dzulkarnain untuk menunjukkan bahwa pengetahuan teknis, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi global adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang harus dikuasai oleh umat Islam untuk menciptakan stabilitas dan mencegah kerusakan di muka bumi.
Sebagai penutup, ditegaskan bahwa ekonomi yang kuat adalah kunci untuk menghindari kemiskinan, kecanduan, dan korupsi. Ustadz Nouman mengajak umat Islam untuk memiliki pandangan global seperti yang dicontohkan para nabi, di mana pembangunan ekonomi dan aliansi bisnis dianggap sebagai sarana untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia secara berkelanjutan.