Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sedang mempersiapkan peluncuran sistem angkutan kota baru yang berbasis kendaraan listrik, yang sementara ini dikenal dengan nama Angkot Cerdas. Salah satu perubahan signifikan dalam sistem ini adalah pengenalan metode pembayaran digital berbasis tap, yang bertujuan untuk menggantikan transaksi tunai yang saat ini masih digunakan oleh angkot konvensional.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa sistem pembayaran tap ini dirancang untuk terintegrasi dengan layanan transportasi lainnya, seperti Bus Rapid Transit (BRT). Hal ini diharapkan akan memudahkan warga dalam melakukan perjalanan tanpa harus membayar tarif penuh secara berulang kali.
“Saya naik angkot, tap, maka dipotong Rp7.000 dari kartu saya. Ketika saya pindah angkot, tidak dipotong penuh lagi, cukup 1,5 persen dari Rp7.000 selama masih dalam waktu 1 jam. Ini sistem yang adil dan efisien,” ungkap Farhan di kawasan Tamansari pada Rabu (9/7/2025).
Dalam sistem ini, penumpang hanya perlu menempelkan kartu elektronik atau kartu digital pada mesin pembaca (tap reader) yang tersedia di setiap kendaraan. Tarif dasar sebesar Rp7.000 akan dikenakan saat pertama kali melakukan tap. Jika penumpang perlu berganti angkot dalam satu rangkaian perjalanan, tarif selanjutnya hanya akan dikenakan 1,5 persen dari tarif awal, asalkan tidak melebihi batas waktu satu jam sejak tap terakhir. Namun, jika penumpang berganti angkot setelah lebih dari satu jam, sistem akan menghitungnya sebagai perjalanan baru dan tarif penuh kembali berlaku.
Inovasi ini juga bertujuan untuk mengurangi kebiasaan sopir yang menunggu penumpang hingga penuh, karena sistem pembayaran dan operasionalnya akan berbasis pada putaran dan jadwal tetap, bukan jumlah penumpang. Dengan demikian, diharapkan layanan angkot dapat lebih efisien dan tepat waktu.
Penerapan sistem tap ini merupakan bagian dari upaya besar-besaran Pemkot Bandung untuk mentransformasi transportasi publik di kota tersebut. Selain mengganti kendaraan konvensional dengan angkot listrik yang lebih ramah lingkungan, sistem digitalisasi pembayaran ini diharapkan dapat menjadi pemicu perubahan budaya transportasi di kalangan warga Bandung.