Dua siswi kelas XI dari SMAN 2 Cilacap, Jawa Tengah, Alya Meisya Nazwa dan Felda Triana Wati, telah menciptakan sebuah alat inovatif bernama "Ompreng". Alat ini dirancang untuk mendeteksi makanan basi yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan bergizi gratis (MBG).
Inovasi ini muncul sebagai respons terhadap tingginya kasus keracunan makanan yang terjadi di lingkungan sekolah. Alya menjelaskan bahwa ide tersebut timbul setelah beberapa temannya mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan yang sudah tidak layak. Dengan keberadaan alat ini, diharapkan risiko keracunan makanan dapat diminimalisir.
Alat "Ompreng" telah melalui uji laboratorium dan saat ini digunakan di sekolah. Inovasi ini juga membawa Alya dan Felda meraih penghargaan juara dua di tingkat Regional Jawa Tengah DIY pada ajang AHM Best Student (AHMBS) 2025.
Alat ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dengan sistem sensor yang dipasang pada tutup kotak. Cara penggunaannya sangat mudah; pengguna hanya perlu memasukkan sampel makanan ke dalam kotak, dan sensor akan membaca kandungan gas yang dihasilkan. Proses deteksi berlangsung antara 3 hingga 5 menit, dengan hasil yang ditampilkan melalui indikator. Jika makanan terdeteksi sudah basi, maka akan muncul tanda peringatan.
Alya dan Felda menggunakan dua jenis sensor berbeda dalam alat ini. Sensor MQ135 digunakan untuk mendeteksi makanan berbasis hewani, sedangkan sensor MQ3 digunakan untuk makanan nabati.
Keberhasilan inovasi ini mendapatkan apresiasi dari pihak sekolah. Kepala SMAN 2 Cilacap menyatakan bahwa pencapaian ini tidak hanya membanggakan, tetapi juga memberikan manfaat yang signifikan bagi lingkungan sekitar.
Inovasi "Ompreng" sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas makanan bergizi gratis di sekolah. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa program MBG adalah salah satu fokus utama untuk mengurangi angka stunting dan gizi buruk di kalangan pelajar. Dengan adanya alat deteksi ini, potensi risiko keracunan makanan dapat lebih terkontrol.