Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat membuahkan hasil signifikan dengan tercapainya komitmen perdagangan dan investasi sebesar 38,4 miliar dolar AS atau setara Rp648,9 triliun. Kesepakatan ini difinalisasi dalam US-Indonesia Business Forum yang berlangsung di U.S. Chamber of Commerce, Washington D.C., bersamaan dengan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump.
Nilai fantastis tersebut terbagi ke dalam dua pilar utama, yakni sektor industri senilai 33,9 miliar dolar AS dan sektor pertanian sebesar 4,5 miliar dolar AS. Fokus kerja sama ini mencakup pengembangan ekosistem semikonduktor, pembangunan fasilitas wafer, industri daur ulang tekstil, hingga pembangunan kawasan industri berbasis teknologi hijau.
Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa posisi Indonesia saat ini telah bertransformasi menjadi mitra strategis yang krusial bagi korporasi Amerika di kawasan Asia Tenggara. Dengan kekuatan demografi dan keterbukaan ekonomi, Indonesia menawarkan lebih dari sekadar pasar konsumen.
"Bagi perusahaan-perusahaan Amerika, Indonesia bukan hanya pasar, tetapi juga basis produksi dan mitra strategis di Asia Tenggara. Skala kami sangat signifikan, demografi kami kuat, dan komitmen kami terhadap keterbukaan sangat kuat," tegas Presiden Prabowo dalam sesi roundtable bersama pimpinan perusahaan AS.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kerja sama di bidang semikonduktor menjadi poin strategis untuk mendorong posisi Indonesia dalam peta rantai pasok teknologi dunia. Menurutnya, langkah ini akan mempercepat transisi Indonesia dari sekadar pasar konsumsi menjadi basis manufaktur teknologi tinggi.
Di sisi lain, komitmen senilai 4,5 miliar dolar AS pada sektor pertanian ditujukan untuk mengamankan ketersediaan bahan baku pangan, pakan ternak, dan industri tekstil nasional dalam jangka panjang. Airlangga menilai capaian ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor Amerika Serikat terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
"Indonesia mendapatkan kepastian akses pasar, jaminan pasokan bahan baku strategis, serta investasi teknologi tinggi. Pada saat yang sama, Amerika Serikat memperoleh mitra produksi dan pasar yang stabil serta kompetitif," tutup Airlangga.