Generasi Muda Muslim: Penggerak Perubahan di Era Digital
Radar Digital

Generasi Muda Muslim: Penggerak Perubahan di Era Digital

Di tengah derasnya arus globalisasi, generasi muda Muslim, khususnya di Sulawesi Selatan, menunjukkan upaya nyata dalam menjaga warisan budaya mereka. Nilai-nilai luhur seperti siri’ na pacce, sipakatau, dan sipakainge tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dipadukan dengan teknologi agar tetap relevan di era digital. Berbagai komunitas budaya di Sulsel mengemas tradisi mereka melalui festival budaya, lomba bahasa daerah, dan konten kreatif di media sosial untuk menarik minat generasi muda.

Semangat tersebut tercermin dalam agenda tahunan Indonesia Youth Summit (IYS) yang baru-baru ini diselenggarakan di Makassar. Dalam sambutannya, Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menekankan pentingnya integritas dan nilai dalam kepemimpinan. Ia menyatakan bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh usia atau jabatan, melainkan oleh kesatuan antara pemikiran yang sehat dan tindakan nyata. “Yang penting bukan soal usia, tetapi soal integritas,” tegasnya, sembari merujuk pada perjalanan kepemimpinan para presiden Indonesia dari masa ke masa.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, juga menekankan pentingnya mendengar suara dan mimpi anak-anak muda, termasuk mereka yang mungkin belum banyak dikenal namun memiliki potensi besar. Salah satu sorotan dalam kegiatan ini adalah penampilan pemuda Makassar berbakat di bidang perfilman, yang berkembang berkat dukungan program pemerintah seperti Makassar Creative Hub. Menurut Munafri, pembentukan karakter dan penyaluran potensi anak muda merupakan tanggung jawab negara.

Makassar Creative Hub diharapkan dapat menjadi solusi bagi kesenjangan akses kerja dan pengembangan diri yang selama ini dialami generasi muda. Namun, di balik berbagai inisiatif positif tersebut, generasi muda saat ini hidup dalam tatanan sekuler-kapitalistik yang semakin menguat di era digital.

Pandemi COVID-19 telah mempercepat digitalisasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Platform digital kini menjadi ruang utama pembentukan kesadaran, terutama bagi generasi Z yang hampir seluruh hidupnya terhubung dengan dunia digital. Fenomena ini memiliki dampak ganda, memberikan peluang besar sekaligus ancaman serius.

Hegemoni Digital

Generasi muda saat ini menghadapi konsekuensi dari tatanan kehidupan sekuler-kapitalistik global. Sejak Amerika Serikat memimpin dunia dengan ideologi kapitalisme, hampir semua aspek kehidupan diarahkan pada logika pasar dan keuntungan. Pada awal dekade 2020–2021, kapitalisme sempat terlihat runtuh ketika pasar bebas kolaps, dan negara mengambil alih peran besar melalui kontrol harga, subsidi, dan bantuan sosial. Pandemi juga memicu resesi global, pemutusan hubungan kerja massal, dan kolapsnya sektor-sektor vital.

Meski demikian, kapitalisme tidak mati. Ia bangkit kembali dalam bentuk kapitalisme platform, di mana perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, TikTok, dan Shopee menguasai infrastruktur digital yang kini menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Data, algoritma, dan perhatian manusia menjadi sumber utama keuntungan, dan platform digital tidak hanya menyediakan layanan tetapi juga mengatur perilaku manusia.

Dominasi ini menciptakan hegemoni digital, di mana kontrol sosial dilakukan bukan dengan paksaan, melainkan melalui penerimaan sukarela. Algoritma menentukan apa yang dianggap penting, apa yang viral, dan bagaimana realitas dimaknai. Dalam sistem ini, pengguna tidak hanya berperan sebagai konsumen, tetapi juga sebagai komoditas.

Misi Penyelamatan Generasi

Dalam pandangan Islam, penyelamatan generasi adalah kewajiban setiap Muslim. Misi ini hanya dapat terwujud secara menyeluruh dalam naungan Khilafah Islam yang mampu mewujudkan kedaulatan digital umat. Menurut pandangan ini, penyelesaian masalah digital tidak cukup hanya dengan pemblokiran konten negatif. Selama platform dan algoritma dikuasai oleh raksasa digital sekuler yang berorientasi keuntungan, konten yang mendukung perilaku sekuler dan gaya hidup kapitalistik akan terus diproduksi.

Regulasi yang diterapkan oleh negara-negara sekuler, termasuk Indonesia, dinilai masih sebatas mengurangi dampak, bukan menghentikan akar masalah. Negara sering kali tidak tegas karena perusahaan-perusahaan besar ini juga berperan sebagai penopang utama ekonomi.

Negara yang berbasis Islam diyakini mampu berinvestasi dalam teknologi tinggi untuk kemaslahatan umat, bukan hanya untuk keuntungan segelintir kapitalis. Dengan kekuatan politik dan visi ideologis, negara tersebut dapat melindungi umat dari kerusakan akibat kemajuan teknologi digital.

Karena itu, setiap Muslim memiliki tanggung jawab dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam. Generasi muda memiliki peran strategis karena kemampuan mereka dalam menguasai teknologi digital. Sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah Saw berhasil membina generasi muda dengan menanamkan akidah sebagai visi hidup dan syariat Islam sebagai solusi atas persoalan kehidupan.

You can share this post!