Ferdy Sambo: Ambisi Menjadi Kapolri hingga Isu Orientasi Seksual
Dalam perkembangan terbaru mengenai kasus yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo, mantan pengacara Bharada E, Deolipa Yumara, mengungkapkan pandangannya terkait ambisi Sambo yang dinilai berlebihan. Menurutnya, Ferdy Sambo memiliki keinginan kuat untuk menjabat sebagai Kapolri, bahkan mengincar posisi presiden Republik Indonesia.
Deolipa Yumara menyebut Ferdy Sambo sebagai seorang psikopat, mengklaim bahwa ambisi tersebut telah terdeteksi sejak lama. "Ferdy Sambo ini psikopat. Kami sudah deteksi lama. Dia pengin jadi Kapolri, bahkan kalau bisa ingin jadi presiden," ungkapnya dalam sebuah pernyataan.
Selain mengutarakan ambisi politik Ferdy Sambo, Deolipa juga menyinggung orientasi seksualnya. Ia menyebut Sambo sebagai seorang biseksual, mengindikasikan bahwa Sambo memiliki ketertarikan terhadap kedua jenis kelamin. "Dia adalah biseksual. Biseksual ini suka sama wanita, suka juga sama pria, tingkat cemburunya tinggi karena dia bisa bercinta dengan beberapa orang," tambahnya.
Deolipa Yumara juga menegaskan bahwa Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) dan Bharada Richard Eliezer (Bharada E) bukanlah LGBT atau biseksual, melainkan korban dari tindakan Ferdy Sambo. "Saudara Eliezer bukan seorang LGBT, Saudara Yosua bukanlah LGBT. Keduanya mempunyai pacar masing-masing dan dalam komunikasi masing-masing, mereka menyayangi kekasihnya, serta taat akan Tuhan," jelasnya.
Di sisi lain, situasi hukum terkait kasus pembunuhan Brigadir J terus berkembang. Jumlah oknum polisi yang diperiksa dalam kasus ini bertambah menjadi 83 orang, meningkat dari 63 orang sebelumnya. Dengan penambahan tersangka baru, yaitu Putri Candrawati, kini total tersangka dalam kasus ini menjadi lima orang, termasuk Ferdy Sambo, Bharada E, Bripka Ricky Rizal, Kuat Ma'ruf, serta istri Ferdy Sambo, Putri Candrawati.




