Radar Media Digital - KBRN, Bengkulu : Film Dokumenter Kutukan Nikel baru-baru ini dibedah dalam sebuah diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UINFAS Bengkulu. Acara yang diadakan pada Minggu (13/10/24) di Hotel Empang Wisata, Jl. Pariwisata, Lempuing, ini menghadirkan beberapa aktivis-aktivis dan mahasiswa/i selingkup Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah.
Film Dokumenter Kutukan Nikel mengisahkan tentang dampak sosial dan lingkungan akibat eksploitasi tambanng nikel di Indonesia, yanh semakin marak terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Film ini menggambarkan konflik antara perusahaan tambang dan Masya lokal yang terdampak oleh aktivitas pertambangan tersebut.
Satria selaku ketua panitia acara, mengatakan alasan mengadakan film ini agar mahasiswa dan aktivis bisa peka terhadap isu lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja. “Alasan utama diadakan karena banyak aktivis kampus yang kurang peka terhadap isu lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja dan banyak mengalami kerugian, banyak dampak buruk yang ditutupi oleh pemerintah,” jelasnya.
Satria juga mengatakan pada zaman yang canggih ini nikel sangat bermanfaat, karena nikel akan menjadi baterai, tapi masih banyak pertambangan yang menyebabkan dampak buruk untuk masyarakat sekitar. "Tentang isu-isu nikel dan dampaknya terhadap masyarakat sekarang ini sangat penting, kita sebagai rakyat Indonesia harus tahu tentang pengelolaan nikel, jangan sampai merusak lingkungan karena banyak lingkungan yang rusak dan laut-laut yang tercemar," ujar Satria.
Dalam acara bedah film ini, para peserta yang hadir juga diajak untuk mendiskusikan isu-isu lingkungan dan hak asasi manusia yang diangkat dalam film. Beberapa pakar lingkungan dan aktivis turut berpartisipasi, memberikan pandanngan mereka mengenai peran dalam menyuarakan permasalahan global.
Satria berharap agar para aktivis-aktivis berikutnya sadar akan hal tersebut, dan kita harus bertindak sebagai seorang pemuda. Ia juga menekankan bahwa kita haru melakukan yang terbaik untuk bangsa ini. (Alifiah Selvitri/Magang)