Radar Media Digital - DENPASAR, NusaBali.com - Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran berpotensi memicu gangguan besar terhadap perdagangan energi dunia dan berdampak pada stabilitas ekonomi global, termasuk terhadap ekspor Indonesia dan Bali selain impor minyak mentah.
Akademisi Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ayu Sita Laksmi, B.Bus., M.Sc., Senin (2/3/2026) menjelaskan, gejolak politik dan militer di kawasan tersebut memicu kenaikan harga energi. Ketegangan juga dapat meningkatkan premi asuransi kapal serta tarif pengiriman logistik internasional, yang pada akhirnya mempengaruhi berbagai sektor perdagangan, termasuk ekspor Indonesia.
Menurutnya, beberapa komoditas ekspor nasional seperti sawit, karet, dan produk manufaktur berpotensi menghadapi kenaikan biaya pengiriman apabila tarif logistik global meningkat. Dampak tersebut juga bisa dirasakan Bali meskipun Pulau Dewata bukan jalur perdagangan minyak dunia.
Sita Laksmi memaparkan, struktur ekspor Bali didominasi produk kerajinan berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), seperti furnitur kayu, rotan, dekorasi rumah, perak, emas, tekstil, serta produk perikanan dan hasil laut. Pasar utama ekspor Bali berada di kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.
“Bali sebagai eksportir berbasis UMKM sangat sensitif terhadap kenaikan biaya logistik internasional,” ujarnya. Kenaikan ongkos pengiriman dapat mendongkrak harga produk Bali di pasar global sehingga berpotensi menurunkan daya saing. Selain itu, jika konflik berkepanjangan dan memicu inflasi global, permintaan pasar dunia juga dapat melemah.
Meski demikian, ia menilai dampak terhadap ekspor Bali masih relatif terbatas selama konflik tidak berlangsung dalam jangka panjang. Sebagai daerah dengan ekonomi terbuka dan terhubung dengan pasar global, Bali tetap akan merasakan imbas melalui kenaikan biaya logistik dan potensi perlambatan permintaan ekspor.
Sita menambahkan, sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintasi Selat Hormuz. Jika jalur strategis tersebut terganggu, distribusi minyak dunia berpotensi terhambat dan memicu lonjakan harga minyak mentah global. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), berisiko terdampak melalui kenaikan biaya impor energi.
“Kenaikan harga minyak global akan meningkatkan biaya impor energi nasional. Dampaknya bersifat berantai,” jelasnya. Lonjakan harga energi dapat mendorong kenaikan biaya transportasi, distribusi barang, hingga biaya produksi industri yang berujung pada kenaikan harga barang dan jasa.
Dalam kajian ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai cost push inflation, yakni inflasi yang dipicu kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku atau energi. Ia menegaskan, dampak terhadap harga BBM di dalam negeri tidak terjadi secara langsung karena penyesuaian harga bergantung pada kebijakan pemerintah. Namun, efek gejolak geopolitik biasanya mulai terasa beberapa bulan setelah terjadi gangguan perdagangan global. *may