Puasa Jari: Ramadan sebagai Madrasah Literasi Digital
Radar Media Digital - Seorang bapak, setelah melaksanakan Tarawih, duduk di ruang tamu dan membaca sebuah pesan yang kemudian ia sebarkan ke ratusan orang. Tanpa disadari, ia menjadi pengantar sebuah kebohongan yang menyebar tanpa memerlukan niat jahat.
Awal Kejadian
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat 1.674 isu hoaks yang teridentifikasi dalam satu tahun, menunjukkan prevalensi informasi palsu yang tinggi. Penyebaran hoaks ini sering kali dilakukan oleh mereka yang tidak menyadari bahwa informasi yang mereka bagikan tidak benar.
Perkembangan
Psikologi kognitif menunjukkan bahwa saat berpuasa, fungsi eksekutif dapat menurun, yang mengakibatkan kesulitan dalam menilai informasi secara jernih. Hal ini dimanfaatkan oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan kepanikan. Penelitian menunjukkan bahwa berita palsu menyebar enam kali lebih cepat dibandingkan berita yang benar.
Kondisi Terakhir
Ramadan seharusnya menjadi waktu refleksi dan pengendalian diri. Umat yang terbiasa dengan perintah tabayyun justru menjadi rentan terhadap penyebaran kebohongan. Oleh karena itu, Ramadan dapat dimanfaatkan sebagai momen untuk melatih diri dalam menjaga informasi yang dibagikan, menjadikan puasa sebagai pengingat untuk tidak hanya menahan lapar tetapi juga menjaga ucapan dan tindakan.




