Pembunuhan Sri Wulandari di Sumsel: Kebohongan Tersangka Terungkap
Sosial

Pembunuhan Sri Wulandari di Sumsel: Kebohongan Tersangka Terungkap

Radar Media Digital - Pembunuh berbohong, biasa. Kadang polisi sulit mengungkap. Dalam pembunuhan Sri Wulandari, 50, oleh tersangka Andi, 38, di Desa Gaung Asam, Sumsel, tersangka mengaku membunuh karena sering digoda seksual oleh korban. Belakangan terungkap, pelaku mencuri motor korban. Kebohongan pun terungkap.

SULIT mengungkap kebohongan pembunuh karena peristiwanya cuma diketahui pelaku dan korban. Setelah korban mati, pelaku bebas berbohong. Tujuan pelaku, selain menghindari hukum, setidaknya mengurangi volume hukuman.

Di kasus itu, tersangka Andi jago merekayasa kronologi. Namun, berdasar penyelidikan mendalam, polisi membongkar kebohongan tersangka. Akhirnya tersangka dijerat Pasal 459 KUHP, pembunuhan berencana.

Wakapolres Muara Enim Kompol Toni Arman, kepada wartawan, Jumat, 20 Februari 2026, mengatakan, ”tersangka diancam hukuman berat. Sesuai sangkaan primer Pasal 459, ancaman maksimal hukuman mati.”

Konstruksi perkara demikian: Andi dan Sri saling kenal. Mereka sama-sama bekerja di satu perusahaan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) penyedia makanan bergizi gratis di Kecamatan Plaju, Palembang. Andi office boy, Sri tukang cuci alat masak.

Mereka sama-sama sudah berkeluarga. Andi warga Pemulutan Selatan, Ogan Ilir, Sumsel, Sri warga Plaju. Sri punya motor Honda Beat nopol BG 6863 AEF. Andi tak punya motor. Andi punya utang Rp2 juta ke Sri, belum terbayar.

Kamis, 22 Januari 2026, Andi dan Sri sama-sama bekerja di tempat sama. Siang, menjelang usai bekerja, Andi mengatakan ke Sri, ia akan ke Desa Gaung Asam, Muara Enim, untuk mengembalikan terpal. Ia akan naik kendaraan travel (angkutan umum).

Andi menawari Sri, apakah ikut? Tawaran itu diajukan karena sehari sebelumnya Sri minta tolong Andi mengantar ke desa yang sama untuk suatu keperluan.

Maka, tawaran Andi itu disetujui Sri. Dianggap Sri sebagai suatu kebetulan. Pun, Sri menawarkan untuk naik motor miliknyi saja, tak perlu menyewa kendaraan travel.

Seusai bekerja, mereka berangkat. Andi menyetir, Sri diboncengkan.

You can share this post!