Menemukan Kecanggihan Peradaban di Hutan dan Desa Indonesia
Kalau kita ingin mengetahui peradaban yang canggih dan berteknologi tinggi (high tech) kita bisa menemuinya di hutan belantara dan bukan di kota-kota besar dunia seperti Cina, Amerika, Jerman atau atau negara maju lainnya.
A-AA+
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Daftar Disini
MALANG – Kalau kita ingin mengetahui peradaban yang canggih dan berteknologi tinggi (high tech) kita bisa menemuinya di hutan belantara dan bukan di kota-kota besar dunia seperti Cina, Amerika, Jerman atau atau negara maju lainnya, semakin perawan hutan maka ia semakin berteknologi tinggi, begitu ucap Prof. Sutiman, seorang ahli nano-biologi dalam sebuah podcast Kampus Desa Indonesia. Saya awalnya janggal dengan statemennya dan akhirnya membuat saya menjadi penasaran belajar tentang hutan.
Setelah mempelajarinya saya pun mulai sedikit memahami statemen Prof. Sutiman tersebut. Pada hutan rimba Papua yang purba atau Amazon yang lembap misalnya, sebuah keajaiban teknologi sedang bekerja 24 jam sehari. Hutan-hutan ini bukanlah sekadar kumpulan kayu dan daun yang berdiri pasif. Di bawah tanah yang gelap, ribuan kilometer jaringan jamur mikroskopis bekerja menyerupai kabel serat optik organik, menghubungkan akar pohon satu dengan lainnya. Jaringan ini, yang oleh para ilmuwan dijuluki sebagai Wood Wide Web, adalah sistem komunikasi dan distribusi nutrisi paling canggih di planet ini. Lewat jaringan ini, pohon raksasa mengirimkan gula kepada bibit yang kekurangan cahaya, dan sinyal peringatan bahaya dikirimkan secara real-time ke seluruh penjuru hutan jika ada serangan hama. Subhanallah
Beberapa waktu lalu saya menemukan kecanggihan yang mirip-mirip seperti yang terjadi di hutan tersebut terjadi di kampung halaman saya di Jombang yaitu ketika musholla depan rumah saya direnovasi. saya menyaksikan replika sempurna dari algoritma hutan tersebut saat masyarakat dusun saya bergotong royong merenovasi musholla. Apa yang terlihat sebagai kegiatan sosial biasa dan terjadi “lumrahe wong ndeso”, sebenarnya adalah manifestasi dari sebuah "sistem operasi" peradaban yang sangat resilien, yang jika kita adopsi secara nasional, bisa menjadi kunci kesejahteraan Indonesia di masa depan.
Tanpa undangan formal yang dicetak mahal, warga berkumpul di teras musholla dengan suguhan seadanya ada kopi tapi kopi nggereng “Angger Ireng (asal hitam saja)” kata orang desa saya, kopinya satu ons jagungnya satu kilo hehe. Mereka bermusyawarah menentukan kapan batu pertama diletakkan, siapa yang akan memimpin kepanitiaan, hingga bagaimana anggaran dikelola. Dalam kacamata teknologi informasi, musyawarah ini adalah sebuah Protokol Konsensus yang jauh lebih cerdas dari algoritma komputer mana pun.
Di sana terjadi proses data sharing yang jujur dan transparan. Tidak ada instruksi kaku dari pusat, informasi bergerak secara lateral (menyamping). Setiap warga divalidasi sebagai "node" atau titik pusat informasi yang setara. Saat kesepakatan tercapai, data tersebut terkunci menjadi sebuah komitmen kolektif yang tak tergoyahkan. Inilah yang membuat proyek renovasi musholla di desa jarang sekali mangkrak, karena "sistem operasinya" dibangun di atas fondasi kepercayaan, bukan sekadar kontrak di atas kertas.
Saat tahap pembangunan fisik dimulai, kecanggihan sosial ini mencapai puncaknya. Di hutan, kita mengenal istilah simbiosis mutualisme seperti pohon Cecropia yang memberi rumah bagi semut, dan sebagai imbalannya, semut menjadi tentara pelindung sang pohon. Di desa, simbiosis ini mewujud dalam pembagian peran yang luar biasa presisi. Masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki menyumbangkan materi; mereka adalah "penyuplai daya". Namun, teknologi desa yang paling memukau adalah saat mereka yang tidak memiliki uang memilih untuk menghibahkan otot dan keringatnya. Mereka menjadi kuli batu, pengaduk semen, hingga tim pengecor yang bekerja dalam harmoni yang sempurna.
Dalam dunia sistem informasi, ini adalah bentuk Load Balancing atau penyeimbangan beban. Daripada satu mesin besar bekerja sendirian hingga overheat, seluruh komponen masyarakat membagi beban tersebut secara bersamaan. Pengecoran massal yang saya saksikan adalah bukti nyata dari parallel processing, pekerjaan raksasa yang selesai dalam sekejap karena dikerjakan oleh ribuan tangan yang bergerak dalam satu frekuensi. Tidak ada yang bertanya tentang "jam lembur", karena bayarannya adalah rasa bangga saat melihat kubah musholla berdiri tegak.
Lantas, bagaimana hubungannya dengan nasib bangsa? Indonesia hari ini sering kali terjebak dalam "kerusakan sistem" akibat ego sektoral, korupsi yang memutus arus nutrisi ekonomi, dan birokrasi yang terlalu sentralistik sehingga menghambat pertumbuhan di daerah. Kita butuh melakukan "instal ulang" dengan menggunakan Algoritma Hutan dan Desa. Negara yang sejahtera adalah negara yang dikelola seperti ekosistem hutan primer. Hutan tidak pernah membiarkan satu pohon tunggal tumbuh terlalu besar dengan menyerap seluruh nutrisi tanah hingga mematikan tumbuhan di bawahnya. Hutan bertahan karena distribusi sumber daya yang merata. Indonesia akan maju jika pembangunan tidak lagi bersifat "puncak daun" (hanya menguntungkan elit di atas), melainkan memperkuat "akar" (masyarakat di bawah). Sejahtera berarti memastikan "sirkuit" ekonomi mengalir hingga ke unit terkecil di desa-desa, memastikan setiap warga memiliki akses untuk berkontribusi dan memetik manfaat.
Melihat Musholla Al-Qodiriyah depan rumah saya yang telah berdiri kembali dengan melalui swadaya warga dan semalam para jamaah sudah bisa sholat tarawih 23 rakaat dengan kecepatan tinggi tanpa berkeringat karena di Musholla Al-Qodiriyah terpasang pengatur suhu (AC), ada pesan bahwa kita sebenarnya tidak butuh mencari model kemajuan ke negeri-negeri jauh yang individualis. Kita sudah memiliki modalnya di halaman rumah kita sendiri. Solusi bangsa ini bukan terletak pada kerumitan regulasi, melainkan pada keberanian untuk menghidupkan kembali "semangat ngecor bareng" dalam skala nasional. Jika Indonesia dikelola dengan logika kasih sayang hutan di mana yang kuat menopang yang lemah dan yang berilmu menerangi yang gelap, maka kita tidak hanya akan menjadi negara kaya secara angka, tetapi menjadi bangsa yang sejahtera secara batin dan berdaulat secara tindakan. Musholla desa itu telah memberi kita pelajaran berharga: bahwa bangunan paling kokoh tidak hanya direkat oleh semen, tetapi oleh jalinan sirkuit sosial yang bernama gotong royong. Saatnya kita bawa algoritma ini ke jantung kebijakan negara, demi Indonesia yang Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghofur.
***
*) Oleh: Alfin Mustikawan, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ketua ISNU Kota Malang, Co-Founder Kampus Desa Indonesia.
*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Kopi Times Opini Alfin Mustikawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ISNU Kota Malang Kampus Desa Indonesia




