Memahami Keterkaitan Antara Patriarki dan Misogini
Sumber Foto: magdalene.co
Lifestyle

Memahami Keterkaitan Antara Patriarki dan Misogini

Siapa yang menyangka istilah dari kamus tebal feminisme kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia? Dahulu, istilah “ patriarki ” lebih sering terdengar di ruang akademik atau diskusi aktivis. Kini, ia menjelma menjadi buzzword.

Mulai dari utas di X, konten edukasi Instagram, hingga tren TikTok, publik semakin fasih menggunakan istilah patriarki untuk membedah berbagai bentuk ketimpangan gender. Patriarki, misalnya, digunakan untuk melabeli perilaku mokondo, atau untuk mengkritik laki-laki yang menolak kerja perawatan.

Popularitas ini tentu menunjukkan perubahan penting. Namun di saat yang sama, pemaknaan patriarki mulai mengalami penyempitan.

Patriarki kerap dipahami semata sebagai persoalan relasi dalam ruang privat. Bahkan muncul anggapan bahwa seseorang bisa “patriarki tapi tidak misoginis”. Misalnya, laki-laki yang menjalankan peran sebagai provider utama, tetapi tetap membatasi perempuan pada peran domestik.

Dalam logika ini, patriarki dipisahkan dari misogini. Padahal secara konseptual, keduanya saling terkait.

Baca juga: Kesepian dan Isolasi: Musuh dan Tema Utama Karya Sastra Jepang

Simbiosis Parasitik: Mengapa Patriarki Membutuhkan Misogini

Agar lebih mudah, bayangkan patriarki sebagai sebuah sistem. Sistem ini menetapkan struktur relasi kuasa, menentukan siapa yang memiliki otoritas dan siapa yang diharapkan patuh.

Dalam sistem tersebut, misogini berfungsi sebagai mekanisme pengawasan.

Kate Manne, filsuf asal Australia, dalam Down Girl: The Logic of Misogyny (2017), menekankan bahwa misogini bukan sekadar kebencian personal laki-laki terhadap perempuan. Misogini adalah mekanisme sosial yang bertugas mengawasi dan menegakkan norma patriarki.

Patriarki menetapkan laki-laki sebagai subjek yang memiliki otoritas, sementara perempuan diposisikan sebagai pihak yang diharapkan menyediakan layanan emosional, seksual, maupun domestik.

Ketika perempuan menolak atau keluar dari peran tersebut, misogini bekerja sebagai alat pendisiplinan. Perempuan dapat dikucilkan, dilekatkan stigma negatif, hingga mengalami kekerasan berbasis gender.

Dalam kerangka ini, pernyataan “patriarki tapi tidak misoginis” menjadi problematis. Misogini merupakan mekanisme yang menopang keberlangsungan sistem patriarki.

Untuk memahami relasi ini, kita perlu melihat bagaimana misogini bertumpu pada ideologi inferioritas perempuan yang diproduksi sejak lama.

Jack Holland, dalam Misogyny: The World’s Oldest Prejudice (2006), menunjukkan bagaimana perempuan secara historis diposisikan sebagai makhluk kedua—lemah secara intelektual dan cacat secara moral.

Baca juga: Rambut Pendek An San dan Feminisme yang Ditabukan Korea Selatan

Aristoteles, misalnya, dalam History of Animals dan Generation of Animals, meyakini perempuan sebagai laki-laki yang “cacat” dan inferior. Ia juga menegaskan bahwa kepatuhan perempuan adalah kondisi alami yang bersifat permanen.

Narasi inferioritas ini tidak berhenti di filsafat.

Dalam karya sastra kuno Odyssey karya Homer, Penelope ditegur putranya, Telemachos:

“Masuklah ke dalam rumah, dan uruslah pekerjaanmu, alat tenun dan distaff, dan suruhlah pelayan perempuanmu juga mengurus pekerjaan mereka. Berbicara adalah urusan laki-laki.”

Contoh-contoh ini memperlihatkan misogini bukan fenomena baru. Ia merupakan bagian dari struktur pemikiran yang memberi legitimasi pada dominasi laki-laki.

Jika patriarki membutuhkan pembenaran atas relasi kuasa, misogini menyediakan landasan ideologisnya.

Baca juga: Magdalene Primer: Perbedaan Misogini dan Seksisme

Misogini dalam Wajah Sehari-hari

Salah satu alasan keterkaitan patriarki dan misogini kerap luput terlihat terletak pada bentuk misogini yang sering kali halus dan dinormalisasi.

Misogini tidak selalu hadir dalam bentuk ekstrem seperti kekerasan fisik. Ia kerap muncul dalam praktik sosial dan budaya yang dianggap biasa.

Misogini dapat mewujud dalam tindakan merendahkan kapasitas intelektual perempuan melalui mansplaining, objektifikasi tubuh perempuan, hingga pembatasan peran melalui stereotip.

Contoh sederhana terlihat ketika seorang ayah melarang anak perempuannya mengambil jurusan teknik karena dianggap “bidang laki-laki”. Atau ketika seorang suami menjalankan peran sebagai provider, tetapi melarang istrinya bekerja.

Keduanya mencerminkan praktik pembatasan berbasis prasangka inferioritas.

Allan G. Johnson, dalam The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (1997), menyoroti bagaimana patriarki sebagai sistem memiliki obsesi terhadap kontrol. Kontrol tersebut dipertahankan melalui keyakinan bahwa perempuan merupakan pihak yang perlu dibimbing.

Dalam konteks ini, misogini bekerja bukan hanya melalui kebencian terbuka, tetapi juga melalui prasangka mikro yang dibungkus dengan nada perlindungan.

Mengetahui bahwa masyarakat semakin awas terhadap patriarki tentu merupakan perkembangan penting. Namun pemahaman yang dangkal berisiko mempertahankan pola pikir yang sama.

Kesadaran terminologi tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan cara pandang.

Patriarki dan misogini merupakan dua konsep yang saling terkait. Memahami salah satunya tanpa melihat relasi strukturalnya berpotensi menghasilkan pembacaan yang parsial.

Pada akhirnya, diskusi mengenai patriarki tidak berhenti pada penggunaan istilah. Ia menuntut refleksi terhadap cara kita memaknai peran, otoritas, dan relasi kuasa dalam kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

Tags:

kaitan patriarki dan misogini pengertian misogini pengertian patriarki