Memahami Avoidant Attachment dalam Hubungan dan Pentingnya Kesehatan Mental
Radar Media Digital - Istilah avoidant attachment belakangan sering muncul dalam pembahasan mengenai hubungan, terutama di media sosial. Istilah ini merujuk seseorang yang cenderung menjaga jarak secara emosional dan sulit terbuka kepada pasangan.
Psikolog Agatha Paskarista menjelaskan bahwa attachment merupakan teori dalam psikologi yang berkaitan dengan pola relasi seseorang dengan orang lain. Menurut Agatha, istilah avoidant attachment sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang cenderung menghindari kedekatan emosional dalam hubungan. Namun ia mengingatkan bahwa perilaku dalam relasi tidak bisa langsung diberi label psikologis tanpa melihat konteks yang lebih luas.
“ Attachment adalah salah satu teori dalam psikologi yang berkaitan dengan pola relasi. Tapi perilaku dalam hubungan perlu dilihat secara lebih luas dan tidak bisa langsung diberi label,” ujar Agatha pada acara Beauty That Moves: International Women’s Day yang diselenggarakan oleh L'Oréal pada awal Maret 2026 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan..
Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons konflik atau tekanan dalam hubungan. Ada yang mengekspresikan emosinya secara terbuka, tetapi ada juga yang memilih untuk menjauh atau menahan perasaan.
Salah satu perilaku yang sering dikaitkan dengan avoidant attachment adalah silent treatment, yaitu ketika seseorang memilih mendiamkan pasangannya saat terjadi konflik. Menurut Agatha, sikap tersebut bisa berdampak secara psikologis bagi pihak yang mengalaminya. “ Silent treatment tentu bisa berdampak secara psikologis karena itu bukan bentuk ekspresi emosi yang sehat,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua orang yang melakukan silent treatment atau menjaga jarak dalam hubungan dapat langsung dikategorikan memiliki avoidant attachment. Saat ini istilah tersebut sering digunakan sebagai label, padahal untuk menentukannya diperlukan penilaian yang lebih mendalam.
Dalam kesempatan yang sama, psikolog sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Pulih Livia Iskandar menekankan pentingnya kesehatan mental dalam membangun hubungan yang sehat.
Menurut Livia, kesehatan mental sering kali dianggap terpisah dari kesehatan secara umum, padahal keduanya saling berkaitan. “Tidak ada kesehatan yang utuh tanpa kesehatan mental,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan dukungan alias support system sangat penting, terutama ketika seseorang menghadapi masalah dalam hubungan. Dukungan dari orang terdekat dapat membantu seseorang melihat situasi secara lebih jernih dan tidak merasa sendirian.
Selain itu, Livia juga menilai kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental saat ini mulai meningkat. Hal ini tidak lepas dari peran media sosial dan perkembangan teknologi digital yang membuat informasi lebih mudah diakses.
Meski demikian, ia mengingatkan agar penggunaan istilah psikologi di ruang publik tetap disertai pemahaman yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Melalui berbagai kegiatan edukasi mengenai relasi yang sehat dan kesehatan mental, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami dinamika hubungan serta mampu membangun relasi yang saling menghargai dan mendukung satu sama lain.




