Krisis Ganda yang Menghadapi Anak-anak Indonesia: Tantangan Dunia Digital dan Perubahan Iklim
Sumber Foto: Radar Sukabumi
Radar Digital

Krisis Ganda yang Menghadapi Anak-anak Indonesia: Tantangan Dunia Digital dan Perubahan Iklim

JAKARTA — Anak-anak Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan besar yang saling terkait, yaitu ketergantungan terhadap ruang digital dan dampak serius dari perubahan iklim. Kedua isu ini berpotensi mengancam pemenuhan hak-hak dasar anak, termasuk kesehatan mental, pendidikan, dan rasa aman. Temuan ini diungkapkan dalam diskusi media yang diadakan oleh Save the Children Indonesia pada awal tahun ini.

Menurut studi Save the Children Indonesia tahun 2025 yang berjudul "Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak", hampir 40% anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) menghabiskan waktu antara 3 hingga 6 jam per hari di depan layar, dengan puncak penggunaan yang terjadi antara pukul 18.00 hingga 21.00. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki durasi penggunaan layar yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki. Meski ada larangan penggunaan ponsel di sekolah, banyak anak tetap berusaha untuk mengakses perangkat tersebut selama jam pelajaran.

Namun, peningkatan literasi digital tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan mental anak. Studi tersebut menemukan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan digital, semakin buruk pula kondisi kesehatan mental anak. Meskipun banyak anak yang sudah menyadari berbagai risiko di dunia digital, seperti penipuan, peretasan, pencurian data, dan perundungan siber, mereka masih belum memiliki keterampilan yang memadai untuk menghadapinya dengan aman.

“Anak-anak tahu risikonya, tetapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Mereka membutuhkan kompetensi digital yang komprehensif, pendampingan dari orang tua, dan dukungan kesehatan mental yang memadai,” ungkap Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia.

Di sisi lain, krisis iklim juga memperburuk keadaan. Laporan Voluntary National Review SDGs 2025 mencatat bahwa perubahan iklim telah mengganggu pola makan dan kesehatan anak, menurunkan pendapatan keluarga, serta meningkatkan risiko perlindungan, terutama di saat terjadi bencana.

Kajian yang dilakukan bersama antara Save the Children dan Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025 juga menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih di lokasi pengungsian masih sangat tidak merata. Banyak fasilitas kesehatan yang terdampak dan tidak mampu memberikan layanan yang optimal, sementara kebutuhan balita, ibu hamil, dan menyusui belum terpenuhi dengan layak.

Untuk mengatasi tantangan ini, Save the Children Indonesia mengusulkan pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi. Menyongsong tahun 2026, organisasi ini telah menetapkan beberapa prioritas strategis:

  • Meningkatkan keamanan digital anak melalui pelatihan keterampilan, sistem perlindungan, serta partisipasi anak, guru, dan orang tua.
  • Mendorong literasi adaptasi terhadap krisis iklim dan melibatkan anak-anak dalam aksi iklim yang berarti.
  • Memastikan pemenuhan hak anak dalam proses pemulihan pascabencana, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan aman, sehat, dan tangguh menghadapi krisis dan perubahan zaman. Tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak saat ini, cita-cita itu akan sulit tercapai,” tutup Dessy.