Kendala dalam Implementasi Parkir Digital di Surabaya
SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana untuk memperluas sistem parkir digital secara signifikan. Targetnya, hingga akhir 2025, akan ada 77 lokasi parkir yang menerapkan sistem non-tunai, dengan rencana untuk meningkatkan jumlah tersebut hingga mencapai sekitar 1.500 titik parkir dalam beberapa tahap.
Namun, pelaksanaan sistem parkir digital ini di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah gangguan pada sistem yang mengakibatkan transaksi digital tidak berjalan dengan optimal.
Beberapa pengguna parkir mengungkapkan keluhan terkait situasi ini. Mega Gaisanni, misalnya, mengisahkan pengalamannya saat membayar parkir menggunakan QRIS di kawasan Taman Bungkul, di mana ia diminta untuk membayar ulang secara tunai oleh petugas parkir dengan alasan bahwa sistem sedang mengalami masalah. "Kalau memang error, seharusnya dari awal ada keterangan tidak bisa bayar. Tapi ini sudah berhasil, lalu dibilang bermasalah," ujarnya.
Pengalaman yang serupa juga dialami oleh Erika Mashel. Saat ia berencana untuk makan siang di sekitar Taman Bungkul, ia ingin membayar parkir secara non-tunai, tetapi setelah bertanya kepada petugas parkir, ia diberitahu bahwa sistem sedang terganggu. "Akhirnya saya bayar cash," ungkapnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa penerapan parkir non-tunai di Taman Bungkul belum sepenuhnya efektif. Hal ini berbeda dengan kondisi di kawasan Taman Surya di Jalan Sedap Malam, di mana lebih banyak pengunjung yang berhasil membayar parkir menggunakan QRIS. Sukma Sybilla, salah satu pengunjung, menilai bahwa sistem parkir digital memberikan kemudahan. "Tidak perlu repot menyiapkan uang tunai. Lebih cepat dan nyaman, meski kadang jukirnya masih bingung kalau ada error kecil," katanya.
Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kebijakan digitalisasi parkir yang diharapkan dan praktik yang terjadi di lapangan. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan bahwa meskipun parkir tunai masih tersedia, ia mendorong masyarakat untuk beralih ke sistem non-tunai guna mengurangi potensi masalah. "Dengan nontunai bisa dicek berapa kendaraan yang parkir. Maka semuanya kita fasilitasi, ada nontunai, ada tunai," tuturnya.




