Kementerian Kesehatan Deteksi 65 Persen Orang dengan HIV di Indonesia
Sumber Foto: ANTARA News
Deteksi Viral

Kementerian Kesehatan Deteksi 65 Persen Orang dengan HIV di Indonesia

Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa hingga saat ini, pihaknya telah mendeteksi sekitar 365.010 orang dengan HIV (ODHIV) dari estimasi total 564.000 kasus di tanah air. Angka ini mencerminkan 65 persen dari target yang ditetapkan, dan Kementerian Kesehatan berharap dapat mencapai target deteksi sebesar 68 persen pada tahun 2025.

Dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Plt Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa dari total ODHIV yang terdeteksi, sekitar 255.812 orang atau 70 persen telah menerima pengobatan antiretroviral (ARV). Dari jumlah tersebut, sekitar 150.000 orang telah menjalani pemeriksaan viral load, dan hasilnya menunjukkan bahwa 142.000 orang atau 56 persen memiliki viral load yang tersupresi.

Kementerian Kesehatan menargetkan bahwa 62 persen ODHIV harus memiliki virus yang tersupresi. Prima mengungkapkan, meskipun ada kemajuan, masih terdapat tantangan dalam pemantauan ODHIV, di mana terdapat risiko drop out dari program pengobatan yang perlu diperhatikan agar mereka tidak menjadi sumber penularan.

Tren menunjukkan bahwa estimasi ODHIV meningkat setiap tahunnya, sementara angka pengobatan cenderung menurun. Kasus positif HIV banyak ditemukan pada tiga kelompok utama: pasangan ODHIV, pekerja seksual, dan anak dari ODHIV. Prima menekankan pentingnya edukasi bagi kelompok-kelompok ini agar mereka mau melakukan tes dan mendapatkan penanganan yang diperlukan.

Kementerian Kesehatan menerapkan tiga langkah strategis untuk menanggulangi HIV, dengan tujuan untuk mencapai target global 2030, yaitu 95 persen ODHIV mengetahui status HIV mereka, 95 persen menerima pengobatan ARV, dan 95 persen ODHIV dengan viral load tersupresi. Langkah-langkah tersebut meliputi:

  • Pencegahan, termasuk promosi konsep ABCDE: abstinensi, setia pada pasangan, penggunaan kondom, tidak menggunakan narkoba, dan edukasi.
  • Pemberian profilaksis, pencegahan penularan dari ibu ke anak, serta vaksinasi HPV.
  • Surveilans melalui skrining mandiri, layanan kesehatan, dan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terintegrasi.

Saat ini, terdapat sekitar 13.700 fasilitas layanan kesehatan di Indonesia, di mana sekitar 12.000 di antaranya memberikan konseling dan tes HIV, serta sekitar 6.300 fasilitas yang menawarkan pengobatan ARV. Selain itu, terdapat 437 laboratorium yang siap melakukan tes viral load HIV di berbagai lokasi.

Prima menegaskan bahwa penanganan HIV memerlukan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan implementasi dan integrasi layanan kesehatan yang efektif. Dengan surveilans yang kuat, data dapat dihimpun untuk menyusun kebijakan berbasis bukti yang lebih baik dalam penanganan HIV di Indonesia.