Radar Media Digital - Digitalisasi sering digambarkan sebagai simbol kemajuan dan inklusi, namun kritik muncul yang menilai hal tersebut sebagai alat bagi elit global untuk memperkuat dominasi mereka. Teknologi diklaim digunakan untuk mengontrol masyarakat dan memperkokoh hegemoni kapitalisme.
Konsep yang dikenal sebagai kapitalisme digital atau kolonialisme digital menyoroti bahwa teknologi, seperti kecerdasan buatan, identitas digital, dan sistem pengawasan, berfungsi sebagai sarana konsolidasi kekuasaan. Profesor Jiang Lain mengungkapkan bahwa raksasa teknologi seperti Google dan Facebook memiliki akar dari proyek militer ARPANET yang dikelola oleh Amerika Serikat.
Kasus Jeffrey Epstein mengungkap relasi kuasa di kalangan elit global, menunjukkan jaringan yang menghubungkan pebisnis teknologi, politisi, dan kalangan intelektual. Epstein berperan sebagai “konektor” dalam ekosistem kekuasaan ini, yang memperlihatkan bagaimana kapitalisme bergerak lintas batas, menciptakan ruang impunitas bagi elit yang sulit disentuh hukum. Dokumen dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat menunjukkan keterkaitan Epstein dengan tokoh-tokoh teknologi seperti Bill Gates dan Elon Musk, memperkuat dugaan bahwa digitalisasi tidak netral dan berfungsi sebagai alat kontrol.
Dalam konteks ini, teknologi menjadi instrumen intelijen global dan tidak hanya menguasai ekonomi digital, tetapi juga infrastruktur pengawasan. Digitalisasi, yang seharusnya membawa kemajuan, justru berpotensi menjadi alat dominasi yang sistematis. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan agar teknologi dapat digunakan untuk kemaslahatan, bukan sebagai alat penindasan.