Iran Perkuat Infrastruktur Militer dengan Bunker Beton di Tengah Ketegangan dengan AS
Teheran, Mureks – Iran dilaporkan telah memperkuat situs-situs militer rahasianya dengan pembangunan bunker beton dan penguburan terowongan, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas konstruksi signifikan yang bertujuan untuk melindungi fasilitas-fasilitas strategis dari potensi serangan udara.
Iran sedang memperkuat infrastruktur pertahanannya di berbagai lokasi.
Pembangunan melibatkan bunker beton yang dirancang untuk perlindungan.
Situs militer rahasia dan fasilitas nuklir menjadi fokus utama pembentengan ini.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman serangan.
Tujuan utamanya adalah untuk melindungi aset strategis dari potensi serangan eksternal.
Peningkatan keamanan ini juga mencerminkan pengalaman Iran dengan insiden di fasilitas militernya.
Menurut pantauan Mureks, citra satelit yang diperoleh dari MAXAR TECHNOLOGIES memperlihatkan pembangunan bunker beton di atas sebuah fasilitas baru. Selain itu, Iran juga mempercepat proses rekonstruksi di lokasi yang sebelumnya menjadi target serangan Israel pada Oktober 2024.
Penguatan Fasilitas Militer dan Nuklir
Kompleks Parchin, yang terletak sekitar 30 kilometer tenggara ibu kota Teheran, merupakan salah satu situs militer paling sensitif di Iran. Situs ini dilaporkan diserang oleh Israel pada Oktober 2024, menyebabkan kerusakan luas pada sebuah bangunan. Citra satelit sebelum dan sesudah serangan menunjukkan kerusakan tersebut, dengan rekonstruksi yang terlihat pada 6 November 2024. Pada Senin, 16 Februari 2026, struktur tersebut telah tertutup oleh beton, mengindikasikan upaya penguatan yang masif.
Tidak hanya itu, Iran juga disebut telah “mengubur” pintu masuk terowongan di sebuah situs nuklir yang dibom oleh AS pada tahun lalu. Upaya penguatan serupa juga terlihat pada pintu masuk terowongan di dekat lokasi lain, termasuk kompleks Isfahan dan Natanz, serta perbaikan pangkalan rudal yang rusak akibat serangan AS dan Israel.
Institut untuk Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Internasional (ISIS) menyebut pembangunan di fasilitas baru Taleghan 2 sebagai “sarkofagus beton”. Pendiri ISIS, David Albright, melalui platform X, menyatakan bahwa Iran memanfaatkan jeda negosiasi untuk memperkuat pertahanannya. “Dalam dua sampai tiga minggu terakhir, Iran sibuk menimbun fasilitas baru Taleghan 2 … Lebih banyak tanah tersedia dan fasilitas itu mungkin segera menjadi bunker yang sepenuhnya tak dikenali, memberikan perlindungan signifikan dari serangan udara,” tulis Albright, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Ketegangan AS-Iran Meningkat
Pembangunan ini terjadi di tengah upaya Washington untuk menegosiasikan kesepakatan mengenai program nuklir Iran, sambil terus mengancam tindakan militer jika pembicaraan gagal. Pertemuan terakhir antara AS dan Iran di Jenewa dilaporkan mencapai pemahaman prinsip utama, namun belum ada terobosan signifikan yang tercapai.
Seiring berjalannya diplomasi yang alot, kedua belah pihak justru meningkatkan tekanan militer di kawasan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menggelar serangkaian latihan perang di Selat Hormuz pada Senin dan Selasa pekan ini. Sementara itu, pada Rabu, Teheran mengumumkan latihan militer laut gabungan baru dengan Rusia di Laut Oman.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menunjukkan kekuatan militernya dengan menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan dan memerintahkan pengiriman kapal induk kedua. Pemerintahan Trump juga mengeluarkan ancaman baru terhadap Teheran.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan pentingnya kesepakatan. “Iran akan sangat bijaksana untuk membuat kesepakatan dengan AS,” ujarnya. Mantan Presiden Trump, melalui media sosialnya, bahkan menyatakan bahwa jika Iran menolak kesepakatan, AS mungkin harus menggunakan pangkalan udara di Kepulauan Chagos untuk mencegah serangan dari “rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya.”




