IHSG Melemah, Peluang Investasi di Saham Berkualitas Muncul
Sumber Foto: Ajaib
Internasional

IHSG Melemah, Peluang Investasi di Saham Berkualitas Muncul

Radar Media Digital - IHSG tertekan tarif global dan kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Jumat (27/2/2026). Penyebab IHSG melemah hari ini tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Pada awal sesi, IHSG sempat ambles 1,47% atau turun 121,26 poin ke level 8.114,00, bahkan menyentuh level terendah 8.093,75. Meski sempat memangkas koreksi menjadi sekitar -0,29%, tekanan jual terlihat dominan dengan 507 saham melemah dan hanya 124 saham menguat. Kondisi ini memperpanjang volatilitas IHSG dalam beberapa hari terakhir.

Contents[hide]

Tarif Global Picu Sentimen Risk-Off

Sektor Paling Rentan Terdampak

Koreksi Big Caps Perberat Indeks

Peluang Akumulasi Saham Fundamental Kuat?

Mulai Investasi Saham di Ajaib Sekarang

Tarif Global Picu Sentimen Risk-Off

Rencana kenaikan tarif impor Amerika Serikat menjadi 15% dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian global. Kebijakan proteksionis tersebut memicu sentimen risk-off. Dalam situasi seperti ini, emerging market termasuk Indonesia ikut terdampak karena arus dana asing cenderung keluar dari pasar saham.

Pasar keuangan umumnya merespons cepat isu perang dagang karena berdampak langsung pada arus perdagangan internasional, pertumbuhan ekonomi, serta proyeksi laba korporasi. Karena itu, IHSG ikut tertekan sebagai reaksi jangka pendek terhadap ketidakpastian global tersebut.

Sektor Paling Rentan Terdampak

Ketika ekonomi global, termasuk Tiongkok dan Amerika Serikat, melambat, permintaan terhadap produk ekspor bisa ikut melemah. Komoditas industri seperti nikel cenderung sensitif terhadap perlambatan global karena sangat bergantung pada permintaan eksternal. Akibatnya, sektor manufaktur berbasis ekspor bisa jadi salah satu sektor yang paling rentan karena sangat bergantung pada permintaan luar negeri.

Saham batu bara turut berpotensi tertekan apabila proyeksi konsumsi energi industri melemah. Selain itu, emiten dengan eksposur utang dalam dolar AS dan pendapatan berbasis rupiah menghadapi risiko tambahan ketika nilai tukar berfluktuasi. Sektor properti, infrastruktur, maupun manufaktur dengan beban utang valas relatif lebih sensitif terhadap pelemahan rupiah.

Di sisi lain, sektor perbankan kerap mengalami tekanan jual asing karena bobotnya besar dalam IHSG dan likuiditasnya tinggi. Saham bank sering kali menjadi sumber likuiditas saat investor global melakukan rebalancing portofolio. Namun secara fundamental, bank besar relatif lebih tangguh karena didukung struktur permodalan yang kuat serta pasar domestik yang dominan.

Koreksi Big Caps Perberat Indeks

Data perdagangan menunjukkan bahwa pelemahan IHSG juga dipicu koreksi saham-saham berkapitalisasi jumbo yang memiliki bobot besar terhadap indeks. Beberapa saham big caps memberikan kontribusi negatif signifikan terhadap pergerakan IHSG pada awal sesi. Karena bobotnya besar, penurunan harga pada saham-saham ini langsung menekan indeks secara keseluruhan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp2,98 triliun dengan volume 7,98 miliar saham dalam 397 ribu kali transaksi pada awal perdagangan. Angka ini mencerminkan aktivitas jual yang cukup tinggi di tengah sentimen global yang belum mereda.

Peluang Akumulasi Saham Fundamental Kuat?

Meski IHSG tertekan tarif global, kondisi ini lebih mencerminkan reaksi pasar jangka pendek terhadap ketidakpastian global. Untuk kamu yang berorientasi jangka panjang, koreksi seperti ini justru bisa menjadi momentum akumulasi saham-saham dengan fundamental kuat di harga yang lebih menarik alias harga diskon.

Saham big bank dengan kinerja solid dan dividen yield yang kompetitif bisa menjadi salah satu pilihan untuk dilirik. Saat harga terkoreksi, potensi imbal hasil dividen secara persentase menjadi lebih tinggi. Namun tetap penting untuk memperhatikan kualitas fundamental, prospek bisnis, serta manajemen risiko.

Beberapa tips yang bisa kamu terapkan saat IHSG merah:

Fokus pada investasi jangka panjang

Jangan terpaku pada pergerakan harian. Jika tujuan kamu jangka panjang, fluktuasi jangka pendek bisa menjadi bagian dari siklus pasar yang wajar.

Terapkan strategi dollar cost averaging (DCA)

Membeli saham secara bertahap dalam jumlah nominal tetap membantu kamu mengurangi risiko salah timing dan meratakan harga beli.

Cek laporan keuangan dan rasio fundamental

Pastikan kamu memilih emiten dengan kinerja keuangan sehat, laba stabil, dan rasio yang solid agar lebih tahan terhadap gejolak pasar.

Lakukan diversifikasi portofolio

Jangan menempatkan seluruh dana pada satu sektor atau saham saja. Diversifikasi membantu risiko lebih terkelola ketika pasar sedang bergejolak.

Mulai Investasi Saham di Ajaib Sekarang

Di tengah volatilitas pasar, kamu tetap bisa mengambil keputusan dengan lebih percaya diri lewat fitur analisis yang tersedia di Ajaib. Di Ajaib, kamu bisa mengakses data fundamental, laporan keuangan, hingga berbagai indikator yang membantu sebelum mengambil keputusan investasi saham. Semua bisa kamu lakukan langsung dari aplikasi yang tersedia di Play Store dan App Store.

Jangan lewatkan momentum saat pasar terkoreksi. Manfaatkan peluang dan mulai perjalanan investasi saham kamu dengan strategi yang lebih matang bersama Ajaib.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini berdasarkan riset internal dan tidak dipengaruhi pihak mana pun. Informasi ini bukan merupakan ajakan atau paksaan untuk membeli atau menjual Efek tertentu. Harga saham dapat berubah secara real-time; berinvestasilah sesuai analisis dan keputusan pribadi.

Sumber:

https://money.kompas.com/read/2026/02/27/124152926/tarif-trump-15-persen-bikin-ihsg-rawan-koreksi-sektor-apa-paling-terdampak

https://www.cnbcindonesia.com/market/20260227092205-17-714458/ihsg-tiba-tiba-anjlok-1-lebih-di-awal-perdagangan-ini-penyebabnya