Dominasi Big Tech dalam Pertanian Digital dan Ancaman bagi Petani Lokal
Radar Media Digital - Perusahaan teknologi besar seperti Google, Microsoft, Amazon, IBM, dan Alibaba kini menguasai sektor pertanian global melalui penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan algoritme, yang berpotensi menggeser kendali produksi pangan dari petani lokal ke korporasi multinasional.
Awal Kejadian
Pakar sistem pangan memperingatkan bahwa gelombang digitalisasi dalam pertanian ini dapat memperdalam ketergantungan petani terhadap teknologi dan input industri. Peringatan ini disampaikan dalam laporan terbaru oleh International Panel of Experts on Sustainable Food Systems (IPES-Food) berjudul Head In The Cloud, yang mengkritik peran perusahaan teknologi besar dan agribisnis dalam sistem pangan global.
Perkembangan
Laporan IPES-Food mengungkap bahwa kolaborasi antara Big Tech dan pertanian industri menciptakan model pengambilan keputusan top-down, yang menekan petani untuk menanam tanaman paling produktif dan menguntungkan secara komersial, sementara keanekaragaman lokal sering diabaikan. Pat Mooney, penulis dan pakar pertanian, menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan ini berpotensi merusak sistem pangan. Ia menyoroti fokus algoritme yang hanya mengedepankan lima tanaman pokok: jagung, padi, gandum, kedelai, dan kentang.
Lim Li Ching, ketua IPES-Food, menambahkan bahwa alat-alat yang mahal dan bergantung pada konektivitas berkelanjutan dapat menciptakan situasi di mana petani kecil kehilangan kontrol atas data dan alat keputusan mereka. Laporan ini juga mencatat praktik pertanian presisi berbasis AI yang, meskipun meningkatkan efisiensi, justru meningkatkan ketergantungan petani pada perusahaan besar melalui pembelian benih dan input yang terikat lisensi korporasi.
Kondisi Terakhir
Kekhawatiran terkait dominasi modal di sektor pertanian digital semakin meningkat, dengan nilai pasar yang diproyeksikan meningkat dari USD 30 miliar pada 2025 menjadi USD 84 miliar pada 2034. Kritikan dari komunitas global menunjukkan bahwa aliansi Big Tech dan agribisnis mendefinisikan inovasi sesuai kepentingan mereka, bukan kebutuhan petani. Laporan ini menyerukan kebijakan yang memprioritaskan inovasi berkelanjutan dan inklusif, serta memberikan otonomi kepada komunitas tani dalam menghadapi tantangan sistem pangan global.




